Kamis, 30 Mei 2019

TUGAS PROPOSAL KUALITATIF

ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL PADA OPERASI BILANGAN PECAHAN MENURUT TIPE KESALAHAN NEUMAN TAHUN 2018/2019
Oleh
SITINURHALIMAH
NIM:160103088


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
MATARAM
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Tujuan pembelajaran matematika yaitu memahami konsepmatematika, menggunakan penalaran, memecahkan masalah, mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau medialain untuk memperjelas keadaan atau masalah, dan memiliki sikapmenghargai kegunaan matematika dalam kehidupan (Wardhani, 2008).
Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menghadapi banyak permasalahan.Permasalahan-permasalahan itu tentu saja tidak semuanya merupakan permasalahan matematis, namun matematika memiliki peranan yang sangat sentral dalam menjawab permasalahan keseharian itu (Suherman, 2005:65).Ini berarti bahwa matematika sangat diperlukan oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu memecahkan permasalahan. Oleh karena itu, tidak salah jika pada bangku sekolah, matematika menjadi salah satu mata pelajaran pokok yang diajarkan dari bangku taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.
Rendahnya kemampuan matematika siswa disebabkan oleh faktor siswa yaitu mengalami masalah secara komprehensif atau secara parsial dalam matematika, didalam memberikan meteri pembelajaran matematika guru sering menyampaikan melalui ceramah saja sehingga siswa-siswi sulit menangkap konsep yang diberikan oleh guru. Padahal jika suatu konsep tidak diberikan dengan benar maka siswa-siswi akan kesulitan dalam melanjutkan materi berikutnya.
Keabstrakan mempelajari matematika merupakan suatu hal yang paling sulit, paling tidak disukai,  tidak  disenangi,  dan  dianggap  sukar  dalam  dunia  pendidikan  untuk  sebagian besar siswa. Ruseffendi (2010) mengatakan bahwa matematika (ilmu pasti) bagi anak- anak pada umumnya merupakan mata pelajaran yang pembelajarannya tidak disenangi kalau bukan sebagai mata pelajaran yang dibenci. Hal ini diperkuat oleh Cockcroft (1982) yang menyatakan bahwa mathematics is a difficult subject both to teach and to learn atau matematika merupakan pelajaran yang sulit untuk diajarkan maupun dipelajari.[1]
Anggapan tersebut harusnya bisa ditepis karena dalam matematika terkandung suatu cara seseorang belajar berpikir dan bernalar yang bermanfaat dalam mengolah otaknya. Apabila siswa bisa menguasai dan memahami soal-soal matematika, akan timbul rasa keingintahuan untuk menemukan jawaban dari soal yang diberikan. Dalam proses menemukan jawaban tersebut, siswa mendapatkan tantangan untuk bisa menyelesaikan soal tersebut dengan cara mereka sendiri. Karena setiap siswa mempunyai cara berpikir masing-masing. Satu keyakinan penting yang perlu dimiliki oleh para guru terhadap siswanya, bahwa setiapindividu lahir dengan membawa potensi. Dengan keyakinan demikian, harapannya akan muncul  kesungguhan  untuk lebih peka dan cermat dalam  berusaha  menemukan  serta mengembangkan potensi yang dimiliki siswa.
Pemecahan masalah dalam matematika di  sekolah  biasanya diwujudkan melalui  soal  cerita.  Dalam penyelesaian soal cerita, siswa dituntut untuk dapat memahami konteks permasalahan yang diberikan, menemukan metode penyelesaian, dan menafsirkan kembali penyelesaian yang diperoleh. Menurut NCTM (2000:52), pemecahan masalah merupakan proses menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya pada situasi baru dan berbeda. Selain itu NCTM mengungkapkan tujuan pengajaran pemecahan masalah secara umum adalah untuk (1) membangun pengetahuan matematika baru, (2) memecahkan masalah yang muncul dalam matematika dan di dalam kontekskonteks lainnya, (3) menerapkan dan menyesuaikan bermacam strategi yang sesuai untuk memecahkan permasalahan dan (4) memantau dan merefleksikan proses dari pemecahan masalah matematika. Sehingga pemecahan masalah dan penalaran menjadi salah satu fokus utama dalam pembelajaran matematika sekolah.
Salah satu strategi pembelajaran yang mengkaitkan soal-soal tipe Higher Order Thinking Skill (HOTS)  adalah  pemecahan masalah. Lester F K & Kehle P E (2003) menyatakan bahwa pemecahan masalah adalah kegiatan yang melibatkan berbagai tindakan dalam pikiran termasuk aplikasi dalam penggunaan pengetahuan dan pengalaman.Dalam penyelesaian soal tipe HOTS siswa dituntut untuk dapat memahami konteks permasalahan yang diberikan, menemukan metode    penyelesaian, dan menafsirkan kembali penyelesaian yang diperoleh. Sebagaimana dinyatakan oleh Mayer  (1987)  kemampuan  ranah pengetahuan mencakup (a) pengetahuan bahasa dan fakta, (b) pengetahuan skema, (c) pengetahuan algoritma, dan (d) pengetahuan strategis. Sehingga siswa perlu dibekali dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan tinggi dalam pemecahan masalah dan penalaran menjadi salah satu fokus utama dalam pembelajaran matematika sekolah.Pada peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 54 tahun 2013 dijelaskan bahwa “Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan”. Hal ini berarti bahwa untuk mengukur pencapaian hasil belajar tidak hanya pada kemampuan siswa dalam menguasai materi pembelajaran atau  hanya  dalam  aspek  pegetahuan (kognitif) saja, tetapi untuk melihat pencapaian hasil belajar siswa harus dilihat dari tiga  aspek  secara  komprehensif, yaitu pengetahuan (kognitif), sikap (afeksi) dan keterampilan (psikomotorik).
Permendikbud No. 22 tahun 2016 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah bahwa penilaian aspek pengetahuan terbagi menjadi 5 level, yaitu: mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi. Hal ini menunjukkan bahwa pada ranah kognitif terdapat dua level yang termasuk Higher Order Thinking Skill (HOTS). Soal-soal HOTS menuntun siswa untuk berpikir tingkat tinggi dan dihubungkan dengan problematikadalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 54 tahun 2013  seharusnya soal  ujian nasional yang diselenggarakan di Indonesia mencakup soal-soal pada tingkat Higher Order Thinking Skill (HOTS) agar tercipta Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas yang mampu memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.[2]
B.     Rumusan Masaslah
Dari latar belakang di atas kita dapat mendapatkan rumusan masalah:
1.      Factor-faktor apa saja yang menyebabkan mahasiswa mengalami kesulitan atau salah dalam menyelesaikan soal matematika yang menggunankan HOTS?
2.      Jenis-jenis kesalahan apa saja yang dilakukan mahasiswa untuk materi operasi bilangan pecahan?
C.    Tujuan dan Manfaat
Adapun beberapa tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah diatas, antara lain :
1.      Mengidentifikasi jenis-jenis kesalahan yang dilakukan mahasiswa untuk materi operasi bilangan pecahan.
2.      Mendeskripsikan factor-faktor yang menyebabkan mahasiswa mengalami kesalahan dalam menyelesaikan soal operasi bilangan pecahan.
3.      Untuk mengidentifikasi dan menganalisis siswa dalam memecahkan masalah yang melibatkan HOTS.
D.    Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1.      untuk mengetahui tikat kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika yang menggunakan HOTS.
2.      Untuk mengetahui solusi apa atau penyebab mahasiswa salah dalam menyelesaikan soal operasi pecahan yang mengunakan pendekatan HOTS tersebut.
E.     Telaah Pustaka
Kajian terdahulu inimenjadi salah satu acuan penelitidalam melakukanpenelitian sehingga penelitidapat memperkaya teori yang digunakan dalam mengkaji penelitian yang dilakukan. Daripenelitian terdahulu, penelititidakmenemukan penelitian dengan judul yang sama seperti judul penelitian penulis. Namunpeneliti mengangkat beberapa penelitian sebagai referensi dalam memperkayabahan kajianpada penelitian.Berikut merupakan penelitian terdahulu berupabeberapa jurnal terkait dengan penelitian yang dilakukan peneliti.
No
Judul
Persamaan
Perbedaan
1
Analisis Kesalahan Siswa Dalam Mengerjakan Soal Persamaan Kuadrat
Sama-sama meneliti tentang kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika
Menggunakan pendekatan HOTS dalam menentukan kesalahan Siswa dalam menyelesaikan soal Matematika
2
Analisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal-soal oprasi hitung pada bilanagan pecahan siswa kelas VII SMP PGRI Banyubiru
Sama-sama meneliti tentang kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika
Menggunakan pendekatan HOTS dalam menentukan kesalahan Siswa dalam menyelesaikan soal Matematika
3
Analisis kesalah siswa kelas VII E sekolah menengah pertama pangudi luhur 1 yogyakarta untuk materi aritmatika social tahun ajaran 2016/2017
Sama-sama meneliti tentang kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika
Menggunakan pendekatan HOTS dalam menentukan kesalahan Siswa dalam menyelesaikan soal Matematika
4
Proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah geometri berdasarkan Teori Van Hiele ditinjau dari gender
sama-sam ditinjau dari gender dan menggunakan Trends in International Mathematics and Science Study [TIMSS] (2011)
Menggunakan pendekatan HOTS dalam menentukan kesalahan Siswa dalam menyelesaikan soal Matematika
5
Analisis Kesalahan Dalam Menyelesaikan Soal Program Linear Pada Siswa Kelas II SMA Negeri X
Sama-sama meneliti tentang kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika
Menggunakan pendekatan HOTS dalam menentukan kesalahan Siswa dalam menyelesaikan soal Matematika

F.     Kerangka Teori
1.      Analisis Kesalahan
Dalam mempelajari matematika, kosep-konsep matemtatika menjadi dasar untuk mempelajari setiap materi pada matematika.Banyak siswa tidak mengetahui jika dalam mengerjakan soal-soal matematika siswa hanya beranggapan jika suatu jawaban sudah benar maka siswa sudah memahami konsep, padahal jika diteliti lebih lanjut jawaban tersebut belum tentu sesuai dengan konsep-konsep yang ada. Hufaisan dan Neuner (2003 : 105) menjelaskan analisis kesalahan adalah “fahleranalyase ist ein aus verchidenen schritten besthendes vorgehen zur identifizierung, klassifizierung, erklarung, korrektur and bewertuung, therapie and prophylaxes vonfahlern”.
kesalahan-kesalahan siswa tersebut bisa terjadi dari beberapa hal diantaranya karena konsep, konsepsi, prakonsep, dan miskonsepsi.
2.      Tipe-tipe Kesalahan
Menurut Newman (Clement, 1980) yaitu, kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat dalam menyelesaikan soal matematika yang sering di jumpai kesalahan dalam proses penyelesaiaan dimana siswa tidak menguasai suatu konsep matematika dan siswa tidak mengetahui teknik berhtung; kesalahan dalam keterampilan proses, siswa dalam menggunakan kaidah atau aturan sudah benar atau siswa sudah menguasai konsep, tetapi siswa melakikan kesalahan dalam melakukan perhtungan atau komputasi; kesalahan dalam memahami soal, siswa sebenarnya sudah memahami soal, tetapi belum menanggapi informasi yang terkandung dalam pertanyaan, sehingga siswa tidak dapat menyelesaikan solusi dari permasalahan atau siswa tidak dapat menuliskan hasil akhr dari  soal; kesalahan transformasi, siswa gagal dlam memahami soal-soal untuk diubah kedalam kalamat matematika yang benar; kesalahan dalam menggunakan notasi, dalam hal ini siswa melakukan kesalahan dalam menggunakan notasi yang benar, dalam mengerjakan siswa menggunkan notasi yang salah; kesalahan membaca, siswa melakukan kesalahan dalam membaca kata-kata penting dalam pertanyaan atau siswa salah dalam membaca informasi utama, sehingga siswa tidak menggunakan informasi tersebut untuk menyelesaikan soal.
Menurut NCTM (2000:52), pemecahan masalah merupakan proses menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya pada situasi baru dan berbeda. Selain itu NCTM mengungkapkan tujuan pengajaran pemecahan masalah secara umum adalah untuk (1) membangun pengetahuan matematika baru, (2) memecahkan masalah yang muncul dalam matematika dan di dalam konteks-konteks lainnya, (3) menerapkan dan menyesuaikan bermacam strategi yang sesuai untuk memecahkan permasalahan dan (4) memantau dan merefleksikan proses dari pemecahan masalah matematika. Sehingga pemecahan masalah dan penalaran menjadi salah satu fokus utama dalam pembelajaran matematika sekolah.
Salah satu strategi pengajaran yang mempromosikan HOTS adalah pemecahan masalah.Pemecahan masalah adalah kegiatan yang melibatkan berbagai tindakan dalam pikiran pemikiran termasuk mengakses dan menggunakan pengetahuan dan pengalaman (Lester & Kehle, 2003). Dengan demikian, strategi pengajaran yang melibatkan penggunaan masalah non-rutin di kelas memberikan siswa kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang lebih tinggi dalam proses pemahaman, eksplorasi dan penerapan konsep-konsep matematika (Polya, 1973). Sejak pemecahan masalah melibatkan kegiatan pengolahan, pengetahuan digunakan dalam proses pemecahan masalah yang berbeda. Sebagaimana dinyatakan oleh Mayer (1982, 1987), pengetahuan mencakup) pengetahuan tentang bahasa dan fakta, b) pengetahuan tentang skema, c) pengetahuan tentang algoritma, dan d) pengetahuan strategis[3].
Sehingga siswa perlu dibekali dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan tinggi dalam pemecahan masalah dan penalaran menjadi salah satu fokus utama dalam pembelajaran matematika sekolah.Pada peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 54 tahun 2013 dijelaskan bahwa “Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan”.Hal ini berarti bahwa untuk mengukur pencapaian hasil belajar tidak hanya pada kemampuan siswa dalam menguasai materi pembelajaran atau hanya dalam aspek pegetahuan (kognitif) saja, tetapi untuk melihat pencapaian hasil belajar siswa harus dilihat dari tiga aspek secara komprehensif, yaitu pengetahuan (kognitif), sikap (afeksi) dan keterampilan (psikomotorik).
3.      Pecahan
Secara singkat, bilangan pecahan dapat diartikan sebagai sebuah bilangan yang memiliki pembilang dan juga penyebut.Pada bentuk bilangan ini, pembilang dibaca terlebih dahulu baru disusul dengan penyebut.Ketika menyebutkan suatu bilangan pecahan, diantara pembilang dan penyebut harus disisipkan kata "per". Misalkan untuk bilangan 3/5 maka kita dapat menyebutnya dengan "tiga per lima" begitu juga dengan bilangan 1/4 kalian bisa membacanya "satu per empat" atau "seperempat".
Apabila ada bilangan pecahan yang memiliki nilai sama atau nilainya tetap ketika pembilang dan penyebutnya dikalikan/dibagi dengan sebuah bilangan (bukan nol) maka bilangan pecahan tersebut disebut dengan pecahan senilai. Konsep dari pecahan senilai adalah:
Untuk menjumlahkan dua buah bilangan pecahan, maka syarat utama dari kedua bilangan tersebut adalah harus memiliki penyebut yang sama. Contohnya:
Sedangkan untuk menjumlahkan bilangan pecahan yang memiliki bilangan penyebut berbeda, maka kalian harus menyamakan kedua penyebut tersebut dengan cara mencari kpk dari kedua bilangan yang menjadi penyebut. Contohnya:
konsep pengurangan pada bilangan pecahan sama saja dengan konsep penjumlahannya. pengurangan bisa dilakukan langsung apabila penyebutnya sama. dan apabila penyebut dari kedua bilangan pecahan yang dikurangkan adalah berbeda, maka harus disamakan terlebih dahulu. contohnya:
Penyebut sama:
Penyebut berbeda:
Untuk mengalikan dua buah bilangan pecahan, cukup dengan mengalikan pembilang dengan pembilang lalu penyebut dengan penyebut, contohnya:
Pembagian bilangan pecahan dapat dilakukan dengan mengalikan pembilang dengan penyebut secara bertukar. Contohnya:
4.      Indicator Kesalahan Menurut Newman
Soal tes 1
1)      Pak reza mempunyai  bahan untuk pintu,  bahan untuk jendela,  alumunium untuk hiasan pintu, dan  alumunium untuk hiasan jendela. Pak reza ingin menambahkan bahan untuk pintu dan jendelah sepanjang dan , dan pak reza akan mengurangi alumunium yang digunakan di pimtu sepanjang  dan membagi alumunium yang digunakan di jendela sepanjang . Sehingga berapa panjang bahan yang digunakan oleh pak reza untuk membuat pintu dan jendela, dan berapa panjang alumunium yang digunakan untuk hiasan pintu dan jendela ?
2)      Ibu sri mempunyai dua buah tepung yaitu  tepung terigu dan tepung beras. Ibu sri ingin menambahkantepung terigu yang dimilikinya sebanyak  dan ibu sri ingin mengurangi tepung beras yang ia miliki sebanyak . Hitunglah berapa banyak tepung terigu dan tepung beras yang dimiliki oleh ibu sri?
Table 1 indikator kesalahan menurut newman
Jenis kesalahan
Indicator
kode
Soal beserta jawaban yang benanr
Simulasi dari indikator
Kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat
Tidak menguasai konsep, dan mahasiswa kurang menguasai teknik berhitung


·                      Pecahan biasa dengan pecahan biasa (penyebut sama)
Bentuk soal: 
Soal:
Jawaban siswa
Keterangan:
Terlihat sekali bahwa mahasiswa itu melakukan kesalahan karena siswa itu tidak menguasai suatu konsep suatu bilangan pecahan. Mahasiswa  langsung menjumlahkan bilangan tersebut dan akhirnya mahasiswa itu pun salah dalam menjawab soal tersebut.
Kesalahan keterampilan proses
Mahasiswa sudah menguasai konsep tapi mahasiswa  salah dalam melakukan perhitungan atau komputasi




·                   Pecahan biasa dengan pecahan biasa( penyebut tidak sama)
Bentuk soal:
Soal:

Jawaban siswa :
Keterangan:
Siswa itu sudah menggunakan kaidah atau aturan kerja operasi pada bilangan pecahan tetapi siswa melakukan keslahan dalam menghitung dan menyebabkan hasil dari jawabannya pun salah.
Kesalahan dalam memahami soal
Mahasiswa belum menangkap informasi yang terkandung dalam pernyataan sehingga mahasiswa tidak dapat memperoses lebih lanjut dari permasalahan.






·                   Pecahan campuran dengan pecahan biasa (penyebut sama)
Bentuk soal:
Soal:

Jawaban siswa:
Keterangan:
Sebenarnya siswa sudahmemahami soal tetapi siswa belum menangkap informasi yang terkandung dalam soal yang membuat siswa tidak bisa mengisi jawaban akir dari soal itu.
Kesalahan mentransformasikan
Mahasiswa gagal dalam mengubah kalimat matematika yang benar.


·                   Pecahan campuran dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Bentuk soal:
Soal:

Jawaban siswa:
Keterangan:
Siswa itu sudah benar tapi siswa itu gagal dalam mengubah kalimat matematika yang berbentuk pecahan campuran.akan tetapi siswa itu menggunakan pecahan decimal.
Kesalahan menggunakan notasi
Mahasiswa salah dalam menggunakan notasi

·                   Pecahan biasa dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Bentuk soal:
Soal:
Jawaban siswa:
Keterangan:
Siswa itu sudah benar dalam menentukan bilangannya tetapi salah dalam menggunakan notasinya yaitu siswa menggunakan notasi penjumlahan yang seharusnya pengurangan.
Kesalahan membaca soal
Mahasiswa salah dalam membaca kata-kata penting dalam pernyataan.

·                   Pecahan biasa dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Bentuk soal:
Soal:
Jawaban siswa:
Keterangan:
Siswa menjawab dengan benar akan tetapi siswa itu menggunakan pecahan decimal , ini di sebakan karena siswa itu salah dalam membaca kata-kata penting dalam pengerjakaan matematika.

5.      Daftar Pertanyaan wawancara
Adapun daftar pertanyaan wawancara adalah sebagai berikut:
1.      Dapatkah anda memahami soal tersebut ?
2.      Apakah yang diketahui dari  soal tersebut ?
3.      Apakah ada hal atau informasi yang anda tahu tetapi tidak termuat di soal ?
4.      Termasuk bilangan apatersebut?
5.      Kenapa bisa dikali
6.      Apakah harus disamakan atau tidak penyebutnya kalau pecahan biasa dengan pecahan biasa yang tidak sama itu ?
7.      Bagaimana caranya kenapa  haslnya  ?
8.      Apa yang bisa anda lakukan dari soal tersebut ?
9.      Permasalahan apa yang ada pada soal tersebut ?
10.  Apakah ada yang di tanyakan dari soal tersebut ?
11.  Bisakah anda menyelesaikan soal pecahan campuran dengan pecahan biasa tersebut yang penyebutnya sama tersebut ?
12.  Bisakah anda menyelesaikan soal pecahan biasa dengan pecahan biasa penyebutnya sama ?
13.  Bisakah anda menyelesaikan soal pecahan biasa dengan pecahan biasa tersebut dengan penyebut tidak sama ?
14.  Bisakah anda menyelesaikan soal pecahan caampuran dengan pecahan biasa tersebut yang penyebutnya tidak sama ?
15.  Bagaimana cara anda menyelesaikan soal pecahan campuran dengan pecahan biasa yang penyebutmya tidak sama tersebut ?
16.  Bagaimana cara anda menyelesaikan soal pecahan campuran dengan pecahan biasa yang penyebutnya sama ?
17.  Bagaimana cara anda menyelesaikan soal pecahan bisa dengan pecahan biasa yang penyebutnya sama tersebut ?
18.  Bagaimana cara anda menyelesakan soal pecahan biasa dengan pecahan biasa yang penyebutnya tidak sama itu ?
19.  Mengapa anda menulis solusi dari soal matematika seperti ini
20.  Adakah ada cara lain untuk menuliskan solusi dari soal matematika tadi ?
21.  Dari persoalan yang telah anda baca ternmasuk konsep matematika apa yang terdapat dalam permasalahan tersebut ?
22.  Apaka anda langsung menjumlahkan ini  ?
23.  Mengapa anda mengubah bentuk  ke bentuk  ?
24.  Mengapa anda menjumlahkannya pada langkah terakhir ?
25.  Kenapa anda langsung menjumlahkannya langsung tanpa memperhatika penyebutnya terlebih dahulu ?
26.  Termasuk bilangan apakah  ?
27.  Kenapa notasinya bisa berubah dari – ke +?
28.  Bilangan apa namanya ini  ?
29.  Apa alasan ada kenapa anda meyamakan penyebut dari bilangan tersebut ?
30.  Apakah tidak bisa dikurang kalau penyebutnya berbeda ?
31.  Apa alasan ada jika penyebutnya sama itu anda kurangi atau jumlahkan langsung pecahan biasa dengan pecahan biasa tersebut?
32.  Mengapa anda menulisnya seperti ini  ?
33.  Mengapa anda menulisnya seperti ini  ?
34.  Mengapa kedua hal itu sama ?sedangkan penulisannya saja berbeda ?
35.  Mengapa anda langsung menjawab  ?
36.  Operasi matematika yang mana yang anda kerjakan terlebih dahulu ?
37.  Mengapa anda langsung menjawab  ?
38.  Mengapa anda tidak menuliskan jawabanya dalam bentuk pecahan campuran ?
39.  Kenapa yang penyebutnya tidak sama itu disamakan terlebih dahulu agar bisa dikurang atau di jimlahkan ?
40.  Kenapa anda menuliskan jawabannya seperti ini
41.  Kenapa anda melakukan pemeriksaan ulang ketika anda sudah selesai mengerjakannya ?
42.  Apa yang dapat anda simpulkan dari soal-soal tersebut ?
43.  Mengapa anda merubahnya kebentuk tersebut ?
44.  Darimana anda tahu kalau  jawabannya adalah  ?
45.  Kenapa anada menjumlahkan langsung tesebut ?
46.  Mengapa anda mejumlahkan langsung soal tersebut ?
47.  Apaka bisa kita kurangi langsung tersebut ?
48.  Menagpa  kita kalikan dan kemudian kita jumlahkan terlebih dahulu baru dikurangi ?
49.  Kesimpulan apa  yang dapat anda tarik dari soal di atas?
50.  Dapatkah anda memberikan jawanban yang logis dari jawaban yang anda berikan ?
G.    Metode Penelitian
1.      Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu proses penelitian yang dilakukan secara wajar dan natural sesuai dengan kondisi objektif di lapangan tanpa adanya manipulasi, serta jenis data yang dikumpulkan adalah data kualitatif.[4]
Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, karena peneliti berusaha memperoleh data deskriptif berupa kata-kata tertulis (berupa jawaban tertulis mahasiswadalam menjawab soal), kata-kata lisan (misal pembicaraan keseharian mahasiswa terkait matematika khususnya pada materi operasi hitung bilangan pecahan).
Penelitian kualitatif memiliki sejumlah ciri-ciri yang membedakan dengan penelitian jenis lain. Ciri-ciri tersebut diataranya(1) latar alamiah, (2) manusia sebagai alat (instrumen), (3) metode kualitatif, (4) analisis data secara kualitatif, (5) teori dari dasar (grounded theory), (4) deskriptif, (5) lebih mementingkan proses daripada hasil, (6) adanya batas yang ditentukan oleh fokus, (7) adanya kriteria khusus untuk keabsahan data, (8) desain yang bersifat sementara, (9) hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama.[5]
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif.Penelitian deskriptif (descriptive research) adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung pada saat ini atau saat yang lampau.10Penelitian deskriptif memiliki langkah-langkah dalam pelaksanaannya. Langkah-langkah ini sebagai berikut:
a.       Diawali dengan adanya masalah
b.      Menentukan jenis informasi yang diperlukan
c.       Menentukan prosedur pengumpulan data melalui observasi atau pengamatan
d.      Pengelolaan informasi atau data
e.       Menarik kesimpulan penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan landasan teori yang bisa mendukung penelitian kualitatif. Bogdan & Biklen menyebut landasan teori sebagai paradigma.Paradigma ini diartikan sebagai kumpulan longgar tentang asumsi yang secara logis dianut bersama konsep atau proporsi yang mengarah pada cara berpikir dan cara penelitian. Dalam hal ini, peneliti menggunakan tipe HOTS untuk menjawab masalah penelitian denganjelas bagaimana tingkat kesalahan siswa dalam memecahkan masalah pada materi pecahan di jurusan PGMI mahasiswa semester VI UIN Mataram.
Selain itu, peneliti membuat instrumen penelitian yaitu berupa lembar tes dan pedoman wawancara yang dapat menilai tingkat kesalahan siswa dalam pemecahan masalah matematika pada materi pecahan. Serta menganalisis factor-faktor apa saja yang membuat siswa dapat melakukan kesalahan dalam memecahkan masalah matematika pada materi pecahan.
2.      Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian ini, kehadiran peneliti sangat dibutuhkankarena peneliti bertindak sebagai instrumen kunci.Hal ini didasarkan karena peneliti berpartisipasi langsung dalam penelitian mulai dari memilih topik, pelaksanaan, pengumpulan data, penganalisis data, penyimpulan dan pembuatan laporan penelitian.Peneliti mengumpulkan data secara langsung, yaitu data hasil observasi, tes tertulis, serta hasil wawancara secara mendalam untuk mengetahui tingkat kemampuan berpikir kritis mahasiswa.Saat pengumpulan data di lapangan, peneliti berperan serta dalam kegiatan penelitian dibantu oleh guru dan mahasiswa khususnya mahasiswa semester VI PGMIuntuk mengumpulkan data sebanyak-banyaknya.
3.      Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di UIN Mataram yang beralamatkan di Jalan Gajah Mada No. 100, Pagesangan, Mataram, Jempong Baru, Sekarbela, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Alasan memilih UIN Mataram:
a.       Memnuhi permintaan dosen serta lokasi penelitian yang mudah dijangkau peneliti.
b.      Peneliti terkat dengan tingkat kesalahan siswa di dalam menyelesaikan masalah matematika pada materi pecahan pada mahasiswa.
Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester VI PGMI.Alasan dipilihnya subjek ini adalah karena pada kelas ini telah selesai diajarkan terkait materi pecahan.Subjek yang dipilih dalam penelitian ini berjumlah 6 mahasiswa berdasarkan kemampuan akademik mereka di bidang matematika yaitu tinggi, sedang, dan rendah pada semester tersebut.Serta subjek yang dipilih merupakan mahasiswa yang mudak diajak berkomunikasi.Pemilihan subjek tersebut berdasarkan informasi yang diberikan dosen mata pelajaran matematika mahasiswa semester VI PGMI.
4.      Data dan Sumber Data
a.      Data
Data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah hasil observasi, hasil pekerjaan mahasiswa dalam mengikuti tes dan hasil wawancara yang digunakan penelitian untuk memperjelas tingkat kesalahan mahasiswa dalam memecahkan maslah matematika yang lakukan oleh mahasiswa. Peneliti menggunakan data penelitian berupaa tes dan hasil wawancara mahasiswa dalam memecahkan maslah matematika materi pecahan dengan indicator jenis kesalahan meurut Newman yaitu:
1)      Kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat
2)      Kesalahan keterampilan proses
3)      Kesalahan dalam memahami soal
4)      Kesalahan mentransformasikan
5)      Kesalahan menggunakan notasi
6)      Kesalahan membaca soal
b.      Sumber Data
Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah berupa kata-kata, tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.Sumber data dalam penelitian ini yaitu 2 mahasiswa terpilih.Berdasarkan sumber data tersebut, 2 mahasiswa terpilih tersebut sebagai subjek wawancara.Pemilihan subjek pada 2 mahasiswa dibedakan melalui tingkat kemampuan, yaitu tinggidan rendah.Pemilihan subjek wawancara ini ditentukan berdasarkan pertimbangan dosen mata pelajaran matematika mahasiswa semester VI PGMI.
seperti mahasiswa yang mudah diajak berkomunikasi dan bekerja sama. Dari 6 subjek tersebut merupakan mahasiswa terpilih untuk melakukan tes serta wawancara.
5.      Tekhnik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data dari penelitian ini, peneliti menggunakan Instrumen pengumpulan data berupa tes.Bentuk tes yang digunakan dalam pengumpulan data adalah tes uraian yang menggambarkan tingkat kealahan siswa pada materi pecahan. Dipilihnya tes uraian pada penelitian ini karena untuk menyesuaikan dengan penelitian ini yaitu pemecahan masalah berdasarkan indicator kesalahan newman. Tes yang diberikan disusun sendiri oleh peneliti dan sudah dikonsultasikan dengan guru bidang studi. Tes merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan dalam rangka melaksanakan kegiatan pengukuran, yang di dalamnya terdapat berbagai pertanyaan, pernyataan, atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau dijawab oleh peserta didik untuk mengukur aspek perilaku peserta didik.
Untuk teknik pengumpulan data.Adapun teknik pengumpulan datanya adalah menggunakan Think Aloud Method.
Think Aloud Method adalah suatu teknik dalam pengumpula data dimana mahasiswa diminta untuk mengungkapkan ekspresi verbal tentang ide yang dipikirkan ketika menyelesaikan soal tes tersebut. Dalam hal ini, pelaksanaan pengumpulan data dengan menggunakan Think Aloud Method, yaitu mahasiswa diberikan tes berbentuk soal cerita dengann meminta siswa untuk mengungkapkan ide yang dipikirkan ketika menyelesaikan soal bentuk cerita pada operasi hitung pecahan secara verbal dan tertulis, peneliti akan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mendalam atas jawaban yang diberikan subjek dengan didukung oleh alat perekam. Dengan demikian hasil Think Aloud Methodakan diperoleh jawaban secara verbal dan tertulis. Setelah diberikan tes yang pertama, kemudian diberikan tes yang kedua pada waktu yang berbeda untuk mendapat data yang valid.
Setelah itu, maka didapatkan gambaran bagaimana proses berpikir mahasiswa semester VI PGMI dalam memecahkan masalah bentuk soal cerita pada materi operasi hitung pecahan.
6.      Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data deskriptif kualitatif. Analisis data menurut Bogdan dan Biklen adalah: “Upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, untuk memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Dalam menganalisis data, jawaban siswa ditentukan dari hasil akhirnya saja tetapi dilihat dari langkah-langkah yang digunakan siswa karena yang ditekankan adalah pemahaman konsep siswa dalam menyelesaikan soal-soal operasi hitung pada bilangan pecahan.
Berdasarkan beberapa kesalahan yang dilakukan oleh siswa, diperoleh bentuk-bentuk kesalahan yang dapat dikelompokkan kedalam 6 tipe kesalahan, yaitu, (1) kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat, (2) kesalahan dalam keterampilan proses, (3) kesalahan dalam memahami soal, (4) kesalahan transformasi, (5) kesalahan dalam penggunaan notasi, (6) kesalahan membaca soal.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa data hasil observasi, tes, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian data yangdiperoleh dianalisis menurut Miles dan Huberman dalam beberapa tahap sebagai berikut:
a.       Reduksi data
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicaritema da polanya dan memebuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan menganalisis data. Tahap ini dilakukan untuk merangkum data, memfokuskan pada hal-hal yang penting. Tahap reduksi data dalam penelitian ini meliputi:
1)         Mengumpulkan hasil observasi yang di peroleh sebagai bahan untuk wawancara.
2)         Hasil wawancara disederhanakan menjadi susunan bahasan yang baik kemudian ditransformasikan ke dalam catatan dan dipadukan dengan hasil tes.
b.      Penyajian Data
Paparan data adalah penjabaran data yang sedemikian rupa sehingga dapat dipahami secara jelas. Pembeberan data yang sistematis, interaktif, dan inventif akan memudahkan pemahaman terhadap apa yang telah terjadi sehingga memudahkan penarikan kesimpulan atau menentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya. Dalam penelitian ini data yang akan didapat berupa hasil tes pekerjaan siswa, kalimat, kata-kata yang berhubungan dengan acto penelitian disusun dalam bentuk kata-kata yang urut sehingga sajian data yang merupakan sekumpulan informasi yang tersusun secara sistematis dapat memberikan kemungkinan untuk ditarik kesimpulan. Tahap paparan data dalam penelitian ini meliputi:
1)         Menyajikan data yang diperoleh saat observasi
2)         Menyajikan hasil wawancara yang dipadukan dengan hasl tes.
Dari hasil paparan data dilakukan analisis.Kemudian disimpulkan, sehingga mampu menjawab permasalahan dalam penelitian ini.
c.       Menarik kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan data di atas, peneliti menyimpulkan hasil penelitian deskriptif dengan cara menjawab pertayaan-pertanyaan penelitian dan mensintesiskan semua jawaban tersebut dalam satu kesimpulan yang merangkum permasalahan penelitian secara keseluruhan. Caranya yaitu membandingkan hasil observasi, hasil tes dan hasil wawancara, maka dapat ditarik suatu kesimpulan mengenai Analisis kesalahan siswa dalam memecahkan masalah matematika pada materi operasi hitung pecahan.
7.      Pengecekan Keabsahan Data
Teknik pengecekan kebasahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan Triangulasi data. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.Triangulasi ini dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa data-data yang telah terkumpul sehingga diperoleh data yang benar-benar acto dan objektif. Pada penelitian ini menggunakan jenis teriangulasi waktu yaitu memberikan tes pertama ke subjek kemudian melakukan tes kedua pada subjek yang sama dengan menggunakan instrument tes yang sama maupun berbeda pada waktu yang berbeda minimal satu minggu sejak tes pertama dilakukan.




BAB II
PAPARAN DATA DAN TEMUAN
Dalam penelitan ini data diperoleh dari metode tes dan wawancara.Metode tes digunakan untuk mengetahui bentuk-bentuk kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan operasi hitung bilangan pecahan.Dalam menganalisis data, jawaban siswa ditentukandari hasil akhirnya saja tatapi dilihat dari langkah-langkah yang digunkan oleh mahasiswa karena yang ditentukan adalah pemahaman konsep mahasiswa dalam menyelesaikan soal-soal operasi hitung pada bilangan pecahan.
Berdasarkan beberapa kesalahan yang dilakukan oleh siswa, diperoleh bentuk-bentuk kesalahan yang dapat dikelompokkan kedalam 6 tipe kesalahan, yaitu, (1) kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat, (2) kesalahan dalam keterampilan proses, (3) kesalahan dalam memahami soal, (4) kesalahan transformasi, (5) kesalahan dalam menggunakan notasi, dan (6) kesalahan membaca notasi.
Table 2
Jumlah Tiap-Tiap Tipe Kesalahan
No soal
Materi
keterangan
Total kesalahan

kode
kode
kode
kode
kode
kode


1
Pecahan biasa dengan pecahan biasa
Penyebut sama

2

-

-

-

-

-

2
Penyebut tidak sama

5

2

-

-

-

-

7


2
Pecahan campuran dengan pecahan biasa
Penyebut sama

3

1

-

-

-

-

4
Penyebut tidak sama

5

2

-

-

-


-

7


1
Pecahan biasa
dengan pecahan biasa
Penyebut sama

2

3

-

-

-


-

5
Penyebut tidak sama

6

1

-

-

1

-

8


2
Pecahan campuran dengan pecahan biasa
Penyebut sama

6

1

1

-

-

-

8
Penyebut tidak sama

9

2

1

-

-

-

12












BAB III
PEMBAHASAN
A.    Pembahasan Tes Berdasarkan Tipe Kesalahan I
Tipe kesalahan I (kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat) adalah kesalahan dalam proses penyelesaian dimana siswa tidak menguasai suatu konsep matematika dan siswa kurang menguasai teknik berhitung, antara lain adalah didalam mengerjakan siswa langsung menjawab soal tanpa menulis langkah-langkahnya.
                        Jenis soal pecahan biasa dengan pecahan biasa (penyebutnya sama)
Jawaban siswa pada tes pertama, keterangan; Terlihat sekali bahwa mahasiswa itu melakukan kesalahan karena siswa itu tidak menguasai suatu konsep suatu bilangan pecahan.Mahasiswa  langsung menjumlahkan bilangan tersebut dan akhirnya mahasiswa itu pun salah dalam menjawab soal tersebut.
Hasil Wawancara: berdasarkan hasil wawancara, ternyata siswa masih bingung bagaimana cara untuk menyelesaikan soal tersebut. Hal ini didukung dengan cara mengerjakan siswa saat diberi soal 2 atau tes kedua pada tanggal 23 mei 2019  siswa menjawab .
Berdasarkan contoh Tipe kesalahan I (kesalahan karena keserobohan atau kurang cermat), dari kesalahan siswa tersebut terdapat berbagai macam-macam actor yang menjadi pemikiran disebalik kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal-soal operasi pecahan pada bulat. Faktor-faktor tersebut yaitu siswa kurang teliti didalam mengerjakanya(siswa ceroboh),siswa merasa bingung dalam mengerjakan operasi pacahan pada notasi-notasi tertentu. Kesalahan-kesalahan tersebut dikarenakan siswa tidak menguasai konsep dari operasi bilangan pecahan pada bilangan.
B.     Pembahasan Tes Berdasarkan Tipe Kesalahan II
Tipe kesalahan II (kesalahan dalam keterampilan proses) adalah Siswa dalam menggunakan kaidah atau aturan sudah benar atau siswa sudah bisa menguasai konsep, tetapi siswa melakukan kesalahan dalam melakukan penghitungan atau komputasi. Prosentase berdasarkan tipe kesalahan II adalah:
Jenis soal pecahan biasa dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Jawaban siswa pada tes pertama  , Keterangan; Siswa itu sudah menggunakan kaidah atau aturan kerja operasi pada bilangan pecahan tetapi siswa melakukan keslahan dalam menghitung dan menyebabkan hasil dari jawabannya pun salah.
Hasil Wawancara :Berdasarkan hasil dari wawancara dengan siswa kesalahan yang didapat adalah siswa tergesa-gesa ingin cepat menyelesaikanya dan saat diberi soal yang sama pada tes kedua dengan didampinggi,siswa itu bisa mengerjakan.
Berdasarkan dari contoh Tipe kesalahan II (kesalahan karena keterampilan proses), dari kesalahan siswa tersebut terdapat berbagai macam actor-faktor yang menjadi pemikiran dibalik kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal opersi hitung pada bilangan pecahan.Faktor-faktor tersebut yaitu siswa melakukan kesalahan dalam penghitungan dan siswa tergesa-gesa didalam menulis jawaban akhir yang membuat jawaban tersebut menjadi salah.
C.    Pembahasan Tes Berdasarkan Tipe Kesalahan III
Tipe kesalahan III (kesalahan memahami soal) adalah siswa sebenarnya sudah dapat memahami soal, tetapi belum menangkap informasi yang terkandung dalam pertanyaan, sehingga siswa tidak dapat menyelesaikan solusi dari permasalahan atau siswa tidak bisa menuliskan hasil akhir dari soal. Prosentase berdasarkan tipe kesalahan III adalah:
Jenis soal pecahan campuran dengan pecahan biasa (penyebut sama)
Jawaban siswa pada tes pertama :, Keterangan; Sebenarnya siswa sudahmemahami soal tetapi siswa belum menangkap informasi yang terkandung dalam soal yang membuat siswa tidak bisa mengisi jawaban akir dari soal itu.
Hasil Wawancara: Berdasarkan wawancara dengan siswa kesalahan yang didapat siswa merasa bimbang dan bingung untuk menyelesaikan soal tersebut dan pada tes kedua setelah di beri masukan tetap siswa itu merasa bimbang untuk melanjutkan jawabannya.
Berdasarkan dari contoh tipe kesalahan III (kesalahan memahami soal), dari kesalahan siswa tersebut, terdapat berbagai macam actor-faktor yang menjadi pemikiran disebalik kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal-soal opersi bilangan pecahan.Faktor-faktor tersebut yaitu siswa langsung menjawab hasilnya tanpa membuat menulis hasilnya dan siswa tergesa-gesa dalam menjawab soal yang mengakibatkan siswa lupa menulis hasilnya.
D.    Pembahasan Tes Berdasarkan Tipe Kesalahan VI
Tipe kesalahan VI (kesalahan dalam mentransformasi) adalah kesalahan siswa yang sering dijumpai kesalahan dalam proses penyelesaian dikarenakan kurang memahami konsep. Didalam menyelesaikan soal-soal operasi hitung pada bilangan pecahan kesalahan yang dilakukan seperti salah dalam mentransformasikan.
Jenis soal pecahan campuran dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Jawaban siswa pada tes pertama :, Keterangan; Siswa itu sudah benar tapi siswa itu gagal dalam mentransformasikan kalimat matematika yang berbentuk pecahan campuran. Akan tetapi siswa itu menggunakan pecahan decimal.
Hasil Wawancara: Berdasarkan hasil dari wawancara kesalahan yang dilakukanoleh siswa adalah  tetapi siswa menjawabnya 36 hasilnyapun salah.
E.     Pembahasan Tes Berdasarkan Tipe Kesalahan V
Tipe kesalahan V (kesalahan dalam menggunakan notasi) adalah kesalahan siswa yang sering dijumpai kesalahan dalam proses penyelesaian dikarenakan kurang memahami konsep. Didalam menyelesaikan soal-soal operasi hitung pada bilangan pecahan kesalahan yang dilakukan seperti salah dalam mengubah operasi bilangan. Prosentase berdasarkan tipe kesalahan V adalah:
Jenis soal pecahan biasa denagan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Jawaban siswa pada tes pertama , Keterangan; Siswa itu sudah benar dalam menentukan bilangannya tetapi salah dalam menggunakan notasinya yaitu siswa menggunakan notasi penjumlahan yang seharusnya pengurangan.
Hasil Wawancara: Berdasarkan hasil dari wawancara kesalahan yang didapat adalah siswa salah menulis notasi yang seharusnya pengurangan menjadi penjumlahan. Akan tetapi pada tes yang kedua siswa juga masih salah dalam menggunakan notasi yang menyebabkan ia salah.
Berdasarkan dari contoh tipe kesalahan V (kesalahan dalam menggunakan notasi), dari kesalahan siswa tersebut, terdapat berbagai macam actor-faktor yang menjadi pemikiran disebalik kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal-soal operasi pada bilangan.Faktor-faktor tersebut yaitu siswa tergesa-gesa dalam menjawab mengerjakan soal dan siswa salah dalam menuliskan notasi dalam soal yang membuat jawaban siswa menjadi salah.
Berdasarkan dari contoh tipe kesalahan V (kesalahan dalam menggunakan notasi), dari kesalahan siswa tersebut, terdapat berbagai macam actor-faktor yang menjadi pemikiran disebalik kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal-soal operasi pada bilangan.Faktor-faktor tersebut yaitu siswa tergesa-gesa dalam menjawab mengerjakan soal dan siswa salah dalam menuliskan notasi dalam soal yang membuat jawaban siswa menjadi salah.
F.     Pembahasan Tes Berdasarkan Tipe Kesalahan VI
Tipe kesalahan VI (kesalahan dalam membaca soal) adalah kesalahan siswa yang sering dijumpai kesalahan dalam proses penyelesaian dikarenakan kurang memahami konsep atau salah dalam membaca soal. Didalam menyelesaikan soal-soal operasi hitung pada bilangan pecahan kesalahan yang dilakukan seperti salah dalam membaca soal pecahan yang berbentuk cerita. Prosentase berdasarkan tipe kesalahan VI:
Jenis soal pecahan  biasa dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Jawaban siswa pada tes prtama , Keterangan; Siswa menjawab dengan benar akan tetapi siswa itu menggunakan pecahan decimal , ini di sebakan karena siswa itu salah dalam membaca kata-kata penting dalam pengerjakaan matematika.
Hasil Wawancara: Berdasarkan hasil dari wawancara kesalahan yang dilakukanoleh siswa adalah menggunakan actor ini disebabkan karena siswa itu salah dalam membaca perintah dari soal tersebut, setelah dilakukan tes kedua setelah mendapatkan pencerahan siswa itu bisa menjawab dengan benar sesuai perintah.
















BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Berdasarkan prosentase kesalahan pada tiap-tiap kesalahan yang didapat di UIN Mataram adalah: kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat yaitu sebesar 66,67%; kesalahan dalam keterampilan proses yaitu sebesar 26,04%; kesalahan memahami soal yaitu sebesar 4,17%; kesalahan dalam mengunakan notasi yaitu sebesar 3,13%.
2.      Faktor-faktor yang menjadi pemikiran disebalik kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal operasi pada bilangan pecahan, actor-faktor itu adalah sebagai berikut :
a.       Banyak siswa yang ceroboh saat mengerjakan seperti siswa kurang teliti, terburu-buru tanpa mengoreksi kembali kerjaannya, sehingga siwa tidak mengetahui jika pekerjaannya masih salah atau malah belum dikerjakan.
b.      Siswa belum mengerti benar tentang operasi pada bilangan pecahan, yang membuat siswa salah dalam mengerjakan soal-soal operasi bilangan pecahan.
c.       Siswa agak lama memahami soal karena bahasa yang digunakan sehari-hari berbeda, siswa hanya mementingkan hasil akhir saja tanpa memberi keterangan yang jelas dalam menjawab soal.
d.      Siswa yang benar-benar mengerjakan soal dengan sungguh-sungguh hanya beberapa orang saja dan yang lainnya banyak yang cerita sendiri, banyak siswa yang menunggu jawaban teman untuk mengerjakan soal.
Berdasarkan beberapa actor-faktor di atas dapat dilihat bahwa pemikiran disebalik kesalahan yang dilakukan siswa terjadi karena adanya konflik kognitif.Kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa karena pemahaman konsep pada materi operasi pada bilangan pecahan masih kurang, hal ini disebabkan siswa kurang menyukai mata pelajaran matematika, kesalahan bisa juga terjadi pada buku panduan dan penyampaian konsep guru yang salah.
B.     Saran
Bagi siswa:
1.      Kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat yaitu siswa hendaknya harus banyak-banyak berlatih mengerjakan soal-soal matematika supaya menjadi terbiasa dan memperkecil kecerobohan-kecerobohan itu.
2.      Kesalahan dalam keterampilan proses yaitu siswa hendaknya konsep dasar siswa lebih dipahami supaya dalam melanjutkan prosedur penyelesaian tidak macet.
3.      Kesalahan memahami soal yaitu hendaknya siswa harus latihan untuk memfokuskan diri pada soal agar mudah didalam menangkap apa maksud soal.
4.      Kesalahan dalam mengunakan notasi yaitu hendaknya siswa harus benar-benar meneliti kembali jawaban yang sudah ditulis agar jawaban itu tidak salah.
Bagi Calon Guru:
1.      Pemahaman makna dalam setiap soal lebih ditekankan supaya siswa tidak keliru dalam mentransformasikan soal.
2.      Konsep yang diberikan harus benar-benar sudah dikuasai oleh guru agar bisa dijadikan pedoman dasar siswa untuk materi selanjutnya.
3.      Guru harus lebih kreatif lagi menggunakan alat peraga yang menarik agar materi mudah dipahami oleh siswa siswa.







DAFTAR PUSTAKA
Budiyono. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surakarta : UNS-Press.
Clements, M. N. 1980. Analysing Children’s Error on Mathematical Taks.Education Studies in Mathematics. 11.1-21.
Maleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif.Bandung : PT Remaja Rosdakarya (ROSDA).
Maya Mulyani dan Dedi Muhtadi (2019).Analisis Kesalahan Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Trigonometri Tipe Higher Order Thinking Skill Ditinjau Dari Gender. JPPM Vol. 12 No. 1
Arifin, Zainal,2012Penelitian Pendidikan: Metode dan Paradigma Baru ,Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.
Rasiman, “Leveling of Student’s Critical Ability in Solving Mathematics Problem Base on Gender Differences”, International Jurnal of Education and Research, Vol 3 No. 4, April 2015, 307-318.
Iyad Mulyadi, Dedi Muhtadi. Jurnal Penelitian Pendidikan dan Pengajaran Matematika. Proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah geometri berdasarkan Teori Van Hiele ditinjau dari gender .vol. 4 no. 1, pp. 1–8. Terbit: 31 Maret 2019.


LAMPIRAN
Tes 1 dan Tes 2





[1]Iyad Mulyadi, Dedi Muhtadi. Jurnal Penelitian Pendidikan dan Pengajaran Matematika. Proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah geometri berdasarkan Teori Van Hiele ditinjau dari gender .vol. 4 no. 1, pp. 1–8. terbit: 31 Maret 2019.
[2]Maya Mulyani dan Dedi Muhtadi(2019).Analisis Kesalahan Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Trigonometri Tipe Higher Order Thinking Skill Ditinjau Dari Gender.JPPM Vol. 12 No. 1
[3]Asian Social Science; Vol. 11, No. 21; 2015.Analysis of Students’ Errors in Solving Higher Order Thinking Skills (HOTS) Problems for the Topic of Fraction.Online Published: July 6, 2015
[4]Zainal Arifin, Penelitian Pendidikan: Metode dan Paradigma Baru , (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset, 2012), hal. 140
[5]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DESAIN PEMBELAJARAN MATEMATIKA

DesainPembelajaranMatematika #MT19 Siti Nurhalimah ( 160103088 ) TujuanPembelajaran: Siswadiharapkanuntukbisa menentukangradien...