ANALISIS KESALAHAN
SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL PADA OPERASI BILANGAN PECAHAN MENURUT TIPE KESALAHAN NEUMAN TAHUN 2018/2019

Oleh
|
NIM:160103088
|
JURUSAN PENDIDIKAN
MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN
KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI MATARAM
MATARAM
2019
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Tujuan
pembelajaran matematika yaitu memahami konsepmatematika, menggunakan penalaran,
memecahkan masalah, mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram,
atau medialain untuk memperjelas keadaan atau masalah, dan memiliki
sikapmenghargai kegunaan matematika dalam kehidupan (Wardhani, 2008).
Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu
menghadapi banyak permasalahan.Permasalahan-permasalahan itu tentu saja tidak
semuanya merupakan permasalahan matematis, namun matematika memiliki peranan
yang sangat sentral dalam menjawab permasalahan keseharian itu (Suherman,
2005:65).Ini berarti bahwa matematika sangat diperlukan oleh setiap orang dalam
kehidupan sehari-hari untuk membantu memecahkan permasalahan. Oleh karena itu,
tidak salah jika pada bangku sekolah, matematika menjadi salah satu mata
pelajaran pokok yang diajarkan dari bangku taman kanak-kanak hingga perguruan
tinggi.
Rendahnya kemampuan matematika siswa
disebabkan oleh faktor siswa yaitu mengalami masalah secara komprehensif atau
secara parsial dalam matematika, didalam memberikan meteri pembelajaran
matematika guru sering menyampaikan melalui ceramah saja sehingga siswa-siswi
sulit menangkap konsep yang diberikan oleh guru. Padahal jika suatu konsep
tidak diberikan dengan benar maka siswa-siswi akan kesulitan dalam melanjutkan
materi berikutnya.
Keabstrakan mempelajari matematika
merupakan suatu hal yang paling sulit, paling tidak disukai, tidak
disenangi, dan dianggap
sukar dalam dunia
pendidikan untuk sebagian besar siswa. Ruseffendi (2010)
mengatakan bahwa matematika (ilmu pasti) bagi anak- anak pada umumnya merupakan
mata pelajaran yang pembelajarannya tidak disenangi kalau bukan sebagai mata
pelajaran yang dibenci. Hal ini diperkuat oleh Cockcroft (1982) yang menyatakan
bahwa mathematics is a difficult subject
both to teach and to learn atau matematika merupakan pelajaran yang sulit
untuk diajarkan maupun dipelajari.[1]
Anggapan tersebut harusnya bisa ditepis
karena dalam matematika terkandung suatu cara seseorang belajar berpikir dan
bernalar yang bermanfaat dalam mengolah otaknya. Apabila siswa bisa menguasai
dan memahami soal-soal matematika, akan timbul rasa keingintahuan untuk
menemukan jawaban dari soal yang diberikan. Dalam proses menemukan jawaban
tersebut, siswa mendapatkan tantangan untuk bisa menyelesaikan soal tersebut
dengan cara mereka sendiri. Karena setiap siswa mempunyai cara berpikir
masing-masing. Satu keyakinan penting yang perlu dimiliki oleh para guru
terhadap siswanya, bahwa setiapindividu lahir dengan membawa potensi. Dengan
keyakinan demikian, harapannya akan muncul
kesungguhan untuk lebih peka dan
cermat dalam berusaha menemukan
serta mengembangkan potensi yang dimiliki siswa.
Pemecahan masalah dalam matematika
di sekolah biasanya diwujudkan melalui soal
cerita. Dalam penyelesaian soal
cerita, siswa dituntut untuk dapat memahami konteks permasalahan yang
diberikan, menemukan metode penyelesaian, dan menafsirkan kembali penyelesaian
yang diperoleh. Menurut NCTM (2000:52), pemecahan masalah merupakan proses
menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya pada situasi baru dan
berbeda. Selain itu NCTM mengungkapkan tujuan pengajaran pemecahan masalah
secara umum adalah untuk (1) membangun pengetahuan matematika baru, (2)
memecahkan masalah yang muncul dalam matematika dan di dalam kontekskonteks
lainnya, (3) menerapkan dan menyesuaikan bermacam strategi yang sesuai untuk
memecahkan permasalahan dan (4) memantau dan merefleksikan proses dari
pemecahan masalah matematika. Sehingga pemecahan masalah dan penalaran menjadi
salah satu fokus utama dalam pembelajaran matematika sekolah.
Salah satu strategi pembelajaran yang mengkaitkan
soal-soal tipe Higher Order Thinking
Skill (HOTS) adalah pemecahan masalah. Lester F K & Kehle P E
(2003) menyatakan bahwa pemecahan masalah adalah kegiatan yang melibatkan
berbagai tindakan dalam pikiran termasuk aplikasi dalam penggunaan pengetahuan
dan pengalaman.Dalam penyelesaian soal tipe HOTS siswa dituntut untuk dapat
memahami konteks permasalahan yang diberikan, menemukan metode penyelesaian, dan menafsirkan kembali
penyelesaian yang diperoleh. Sebagaimana dinyatakan oleh Mayer (1987)
kemampuan ranah pengetahuan
mencakup (a) pengetahuan bahasa dan fakta, (b) pengetahuan skema, (c)
pengetahuan algoritma, dan (d) pengetahuan strategis. Sehingga siswa perlu
dibekali dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan tinggi dalam pemecahan
masalah dan penalaran menjadi salah satu fokus utama dalam pembelajaran
matematika sekolah.Pada peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia No. 54 tahun 2013 dijelaskan bahwa “Standar kompetensi lulusan adalah
kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan”. Hal ini berarti bahwa untuk mengukur pencapaian hasil belajar
tidak hanya pada kemampuan siswa dalam menguasai materi pembelajaran atau hanya
dalam aspek pegetahuan (kognitif) saja, tetapi untuk
melihat pencapaian hasil belajar siswa harus dilihat dari tiga aspek
secara komprehensif, yaitu
pengetahuan (kognitif), sikap (afeksi) dan keterampilan (psikomotorik).
Permendikbud No. 22 tahun 2016 tentang
standar proses pendidikan dasar dan menengah bahwa penilaian aspek pengetahuan
terbagi menjadi 5 level, yaitu: mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis
dan mengevaluasi. Hal ini menunjukkan bahwa pada ranah kognitif terdapat dua
level yang termasuk Higher Order Thinking Skill (HOTS). Soal-soal HOTS menuntun
siswa untuk berpikir tingkat tinggi dan dihubungkan dengan problematikadalam
kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 54 tahun 2013 seharusnya soal ujian nasional yang diselenggarakan di
Indonesia mencakup soal-soal pada tingkat Higher Order Thinking Skill (HOTS)
agar tercipta Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas yang mampu memecahkan
masalah dalam kehidupan sehari-hari.[2]
B. Rumusan
Masaslah
Dari latar belakang di atas kita dapat
mendapatkan rumusan masalah:
1.
Factor-faktor
apa saja yang menyebabkan mahasiswa mengalami kesulitan atau salah dalam
menyelesaikan soal matematika yang menggunankan HOTS?
2. Jenis-jenis
kesalahan apa saja yang dilakukan mahasiswa untuk materi operasi bilangan
pecahan?
C. Tujuan
dan Manfaat
Adapun
beberapa tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah diatas, antara lain :
1.
Mengidentifikasi
jenis-jenis kesalahan yang dilakukan mahasiswa untuk materi operasi bilangan
pecahan.
2.
Mendeskripsikan
factor-faktor yang menyebabkan mahasiswa mengalami kesalahan dalam
menyelesaikan soal operasi bilangan pecahan.
3.
Untuk mengidentifikasi
dan menganalisis siswa dalam memecahkan masalah yang melibatkan HOTS.
D. Manfaat
Penelitian
Adapun
manfaat dari penelitian ini adalah:
1. untuk
mengetahui tikat kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika yang
menggunakan HOTS.
2. Untuk
mengetahui solusi apa atau penyebab mahasiswa salah dalam menyelesaikan soal
operasi pecahan yang mengunakan pendekatan HOTS tersebut.
E. Telaah
Pustaka
Kajian terdahulu inimenjadi salah satu
acuan penelitidalam melakukanpenelitian sehingga penelitidapat memperkaya teori
yang digunakan dalam mengkaji penelitian yang dilakukan. Daripenelitian
terdahulu, penelititidakmenemukan penelitian dengan judul yang sama seperti
judul penelitian penulis. Namunpeneliti mengangkat beberapa penelitian sebagai
referensi dalam memperkayabahan kajianpada penelitian.Berikut merupakan
penelitian terdahulu berupabeberapa jurnal terkait dengan penelitian yang
dilakukan peneliti.
|
No
|
Judul
|
Persamaan
|
Perbedaan
|
|
1
|
Analisis Kesalahan Siswa Dalam Mengerjakan Soal
Persamaan Kuadrat
|
Sama-sama
meneliti tentang kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika
|
Menggunakan
pendekatan HOTS dalam menentukan kesalahan Siswa dalam menyelesaikan soal
Matematika
|
|
2
|
Analisis kesalahan siswa dalam
menyelesaikan soal-soal oprasi hitung pada bilanagan pecahan siswa kelas VII
SMP PGRI Banyubiru
|
Sama-sama
meneliti tentang kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika
|
Menggunakan
pendekatan HOTS dalam menentukan kesalahan Siswa dalam menyelesaikan soal
Matematika
|
|
3
|
Analisis
kesalah siswa kelas VII E sekolah menengah pertama pangudi luhur 1 yogyakarta
untuk materi aritmatika social tahun ajaran 2016/2017
|
Sama-sama
meneliti tentang kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika
|
Menggunakan
pendekatan HOTS dalam menentukan kesalahan Siswa dalam menyelesaikan soal
Matematika
|
|
4
|
Proses
berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah geometri berdasarkan Teori Van
Hiele ditinjau dari gender
|
sama-sam
ditinjau dari gender dan menggunakan Trends in International Mathematics
and Science Study [TIMSS] (2011)
|
Menggunakan
pendekatan HOTS dalam menentukan kesalahan Siswa dalam menyelesaikan soal
Matematika
|
|
5
|
Analisis Kesalahan Dalam Menyelesaikan Soal
Program Linear Pada Siswa Kelas II SMA Negeri X
|
Sama-sama
meneliti tentang kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika
|
Menggunakan
pendekatan HOTS dalam menentukan kesalahan Siswa dalam menyelesaikan soal
Matematika
|
F. Kerangka
Teori
1. Analisis
Kesalahan
Dalam
mempelajari matematika, kosep-konsep matemtatika menjadi dasar untuk
mempelajari setiap materi pada matematika.Banyak siswa tidak mengetahui jika
dalam mengerjakan soal-soal matematika siswa hanya beranggapan jika suatu
jawaban sudah benar maka siswa sudah memahami konsep, padahal jika diteliti
lebih lanjut jawaban tersebut belum tentu sesuai dengan konsep-konsep yang ada.
Hufaisan dan Neuner (2003 : 105) menjelaskan analisis kesalahan adalah “fahleranalyase ist ein aus verchidenen
schritten besthendes vorgehen zur identifizierung, klassifizierung, erklarung,
korrektur and bewertuung, therapie and prophylaxes vonfahlern”.
kesalahan-kesalahan
siswa tersebut bisa terjadi dari beberapa hal diantaranya karena konsep,
konsepsi, prakonsep, dan miskonsepsi.
2.
Tipe-tipe
Kesalahan
Menurut
Newman (Clement, 1980) yaitu, kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat
dalam menyelesaikan soal matematika yang sering di jumpai kesalahan dalam
proses penyelesaiaan dimana siswa tidak menguasai suatu konsep matematika dan
siswa tidak mengetahui teknik berhtung; kesalahan dalam keterampilan proses,
siswa dalam menggunakan kaidah atau aturan sudah benar atau siswa sudah
menguasai konsep, tetapi siswa melakikan kesalahan dalam melakukan perhtungan
atau komputasi; kesalahan dalam memahami soal, siswa sebenarnya sudah memahami
soal, tetapi belum menanggapi informasi yang terkandung dalam pertanyaan,
sehingga siswa tidak dapat menyelesaikan solusi dari permasalahan atau siswa
tidak dapat menuliskan hasil akhr dari
soal; kesalahan transformasi, siswa gagal dlam memahami soal-soal untuk
diubah kedalam kalamat matematika yang benar; kesalahan dalam menggunakan
notasi, dalam hal ini siswa melakukan kesalahan dalam menggunakan notasi yang
benar, dalam mengerjakan siswa menggunkan notasi yang salah; kesalahan membaca,
siswa melakukan kesalahan dalam membaca kata-kata penting dalam pertanyaan atau
siswa salah dalam membaca informasi utama, sehingga siswa tidak menggunakan
informasi tersebut untuk menyelesaikan soal.
Menurut
NCTM (2000:52), pemecahan masalah merupakan proses menerapkan pengetahuan yang
telah diperoleh sebelumnya pada situasi baru dan berbeda. Selain itu NCTM
mengungkapkan tujuan pengajaran pemecahan masalah secara umum adalah untuk (1)
membangun pengetahuan matematika baru, (2) memecahkan masalah yang muncul dalam
matematika dan di dalam konteks-konteks lainnya, (3) menerapkan dan
menyesuaikan bermacam strategi yang sesuai untuk memecahkan permasalahan dan
(4) memantau dan merefleksikan proses dari pemecahan masalah matematika.
Sehingga pemecahan masalah dan penalaran menjadi salah satu fokus utama dalam
pembelajaran matematika sekolah.
Salah satu strategi pengajaran yang mempromosikan
HOTS adalah pemecahan masalah.Pemecahan masalah adalah kegiatan yang melibatkan
berbagai tindakan dalam pikiran pemikiran termasuk mengakses dan menggunakan
pengetahuan dan pengalaman (Lester & Kehle, 2003). Dengan demikian,
strategi pengajaran yang melibatkan penggunaan masalah non-rutin di kelas
memberikan siswa kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang lebih
tinggi dalam proses pemahaman, eksplorasi dan penerapan konsep-konsep
matematika (Polya, 1973). Sejak pemecahan masalah melibatkan kegiatan
pengolahan, pengetahuan digunakan dalam proses pemecahan masalah yang berbeda.
Sebagaimana dinyatakan oleh Mayer (1982, 1987), pengetahuan mencakup) pengetahuan
tentang bahasa dan fakta, b) pengetahuan tentang skema, c) pengetahuan tentang
algoritma, dan d) pengetahuan strategis[3].
Sehingga siswa perlu dibekali dengan berbagai
pengetahuan dan keterampilan tinggi dalam pemecahan masalah dan penalaran
menjadi salah satu fokus utama dalam pembelajaran matematika sekolah.Pada
peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 54 tahun
2013 dijelaskan bahwa “Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan
lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan”.Hal ini berarti
bahwa untuk mengukur pencapaian hasil belajar tidak hanya pada kemampuan siswa
dalam menguasai materi pembelajaran atau hanya dalam aspek pegetahuan
(kognitif) saja, tetapi untuk melihat pencapaian hasil belajar siswa harus
dilihat dari tiga aspek secara komprehensif, yaitu pengetahuan (kognitif),
sikap (afeksi) dan keterampilan (psikomotorik).
3. Pecahan
Secara singkat, bilangan pecahan
dapat diartikan sebagai sebuah bilangan yang memiliki pembilang dan juga
penyebut.Pada bentuk bilangan ini, pembilang dibaca terlebih dahulu baru
disusul dengan penyebut.Ketika menyebutkan suatu bilangan pecahan, diantara
pembilang dan penyebut harus disisipkan kata "per". Misalkan untuk
bilangan 3/5 maka kita dapat menyebutnya dengan "tiga per lima"
begitu juga dengan bilangan 1/4 kalian bisa membacanya "satu per
empat" atau "seperempat".
Apabila ada bilangan pecahan yang
memiliki nilai sama atau nilainya tetap ketika pembilang dan penyebutnya
dikalikan/dibagi dengan sebuah bilangan (bukan nol) maka bilangan pecahan
tersebut disebut dengan pecahan senilai. Konsep dari pecahan senilai adalah:
Untuk menjumlahkan dua buah bilangan
pecahan, maka syarat utama dari kedua bilangan tersebut adalah harus memiliki
penyebut yang sama. Contohnya:
Sedangkan untuk menjumlahkan
bilangan pecahan yang memiliki bilangan penyebut berbeda, maka kalian harus
menyamakan kedua penyebut tersebut dengan cara mencari kpk dari kedua bilangan
yang menjadi penyebut. Contohnya:
konsep
pengurangan pada bilangan pecahan sama saja dengan konsep penjumlahannya.
pengurangan bisa dilakukan langsung apabila penyebutnya sama. dan apabila
penyebut dari kedua bilangan pecahan yang dikurangkan adalah berbeda, maka
harus disamakan terlebih dahulu. contohnya:
Penyebut sama:
Penyebut berbeda:
Untuk
mengalikan dua buah bilangan pecahan, cukup dengan mengalikan pembilang dengan
pembilang lalu penyebut dengan penyebut, contohnya:
Pembagian
bilangan pecahan dapat dilakukan dengan mengalikan pembilang dengan penyebut
secara bertukar. Contohnya:
4.
Indicator
Kesalahan Menurut Newman
Soal tes 1
1)
Pak
reza mempunyai
bahan untuk pintu,
bahan untuk jendela,
alumunium untuk hiasan
pintu, dan
alumunium untuk hiasan
jendela. Pak reza ingin menambahkan bahan untuk pintu dan jendelah sepanjang
dan
, dan pak reza akan mengurangi alumunium yang digunakan di pimtu
sepanjang
dan membagi alumunium
yang digunakan di jendela sepanjang
. Sehingga berapa panjang bahan yang digunakan oleh pak reza
untuk membuat pintu dan jendela, dan berapa panjang alumunium yang digunakan
untuk hiasan pintu dan jendela ?
2)
Ibu
sri mempunyai dua buah tepung yaitu
tepung terigu dan
tepung beras. Ibu sri ingin menambahkantepung terigu yang
dimilikinya sebanyak
dan ibu sri ingin
mengurangi tepung beras yang ia miliki sebanyak
. Hitunglah berapa banyak tepung terigu dan tepung beras yang
dimiliki oleh ibu sri?
Table 1 indikator kesalahan menurut newman
|
Jenis kesalahan
|
Indicator
|
kode
|
Soal beserta jawaban yang benanr
|
Simulasi dari indikator
|
|
Kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat
|
Tidak menguasai konsep, dan mahasiswa kurang menguasai
teknik berhitung
|
|
·
Pecahan biasa dengan pecahan biasa (penyebut sama)
Bentuk
soal:
Soal:
|
Jawaban siswa
Keterangan:
Terlihat
sekali bahwa mahasiswa itu melakukan kesalahan karena siswa itu tidak
menguasai suatu konsep suatu bilangan pecahan. Mahasiswa langsung menjumlahkan bilangan tersebut dan
akhirnya mahasiswa itu pun salah dalam menjawab soal tersebut.
|
|
Kesalahan keterampilan proses
|
Mahasiswa sudah menguasai konsep tapi mahasiswa salah dalam melakukan perhitungan atau
komputasi
|
|
·
Pecahan biasa dengan pecahan biasa( penyebut tidak sama)
Bentuk
soal:
Soal:
|
Jawaban
siswa :
Keterangan:
Siswa
itu sudah menggunakan kaidah atau aturan kerja operasi pada bilangan pecahan
tetapi siswa melakukan keslahan dalam menghitung dan menyebabkan hasil dari
jawabannya pun salah.
|
|
Kesalahan dalam memahami soal
|
Mahasiswa belum menangkap informasi yang terkandung dalam
pernyataan sehingga mahasiswa tidak dapat memperoses lebih lanjut dari
permasalahan.
|
|
·
Pecahan campuran dengan pecahan biasa (penyebut sama)
Bentuk
soal:
Soal:
|
Jawaban
siswa:
Keterangan:
Sebenarnya
siswa sudahmemahami soal tetapi siswa belum
menangkap informasi yang terkandung dalam soal yang membuat siswa tidak bisa
mengisi jawaban akir dari soal itu.
|
|
Kesalahan mentransformasikan
|
Mahasiswa gagal dalam mengubah kalimat matematika yang
benar.
|
|
·
Pecahan campuran dengan pecahan biasa (penyebut tidak
sama)
Bentuk
soal:
Soal:
|
Jawaban
siswa:
Keterangan:
Siswa
itu sudah benar tapi siswa itu gagal dalam mengubah kalimat matematika yang
berbentuk pecahan campuran.akan tetapi siswa itu menggunakan pecahan decimal.
|
|
Kesalahan menggunakan notasi
|
Mahasiswa salah dalam menggunakan notasi
|
|
·
Pecahan biasa dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Bentuk
soal:
Soal:
|
Jawaban
siswa:
Keterangan:
Siswa
itu sudah benar dalam menentukan bilangannya tetapi salah dalam menggunakan notasinya
yaitu siswa menggunakan notasi penjumlahan yang seharusnya pengurangan.
|
|
Kesalahan membaca soal
|
Mahasiswa salah dalam membaca kata-kata penting dalam
pernyataan.
|
|
·
Pecahan biasa dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Bentuk
soal:
Soal:
|
Jawaban
siswa:
Keterangan:
Siswa
menjawab dengan benar akan tetapi siswa itu menggunakan pecahan decimal , ini
di sebakan karena siswa itu salah dalam membaca kata-kata penting dalam
pengerjakaan matematika.
|
5.
Daftar
Pertanyaan wawancara
Adapun daftar
pertanyaan wawancara adalah sebagai berikut:
1. Dapatkah
anda memahami soal tersebut ?
2. Apakah
yang diketahui dari soal tersebut ?
3. Apakah
ada hal atau informasi yang anda tahu tetapi tidak termuat di soal ?
4. Termasuk
bilangan apa
tersebut?

5. Kenapa
bisa dikali 
6. Apakah
harus disamakan atau tidak penyebutnya kalau pecahan biasa dengan pecahan biasa
yang tidak sama itu ?
7. Bagaimana
caranya kenapa
haslnya
? 
8. Apa
yang bisa anda lakukan dari soal
tersebut ?
9. Permasalahan apa yang ada pada soal
tersebut ?
10. Apakah ada yang di tanyakan dari
soal tersebut ?
11. Bisakah anda menyelesaikan soal
pecahan campuran dengan pecahan biasa tersebut yang penyebutnya sama tersebut ?
12. Bisakah anda menyelesaikan soal
pecahan biasa dengan pecahan biasa penyebutnya sama ?
13. Bisakah anda menyelesaikan soal
pecahan biasa dengan pecahan biasa tersebut dengan penyebut tidak sama ?
14. Bisakah anda menyelesaikan soal
pecahan caampuran dengan pecahan biasa tersebut yang penyebutnya tidak sama ?
15. Bagaimana cara anda menyelesaikan
soal pecahan campuran dengan pecahan biasa yang penyebutmya tidak sama tersebut
?
16. Bagaimana cara anda menyelesaikan
soal pecahan campuran dengan pecahan biasa yang penyebutnya sama ?
17. Bagaimana cara anda menyelesaikan
soal pecahan bisa dengan pecahan biasa yang penyebutnya sama tersebut ?
18. Bagaimana cara anda menyelesakan
soal pecahan biasa dengan pecahan biasa yang penyebutnya tidak sama itu ?
19. Mengapa anda menulis solusi dari
soal matematika seperti ini 
20. Adakah ada cara lain untuk
menuliskan solusi dari soal matematika tadi ?
21. Dari persoalan yang telah anda baca
ternmasuk konsep matematika apa yang terdapat dalam permasalahan tersebut ?
22. Apaka anda langsung menjumlahkan ini
? 
23. Mengapa anda mengubah bentuk
ke bentuk
?
24. Mengapa anda menjumlahkannya pada
langkah terakhir ?
25. Kenapa anda langsung menjumlahkannya
langsung tanpa memperhatika penyebutnya terlebih dahulu ?
26. Termasuk bilangan apakah
?
27. Kenapa notasinya bisa berubah dari –
ke +?
28. Bilangan apa namanya ini
? 
29. Apa alasan ada kenapa anda meyamakan
penyebut dari bilangan tersebut ?
30. Apakah tidak bisa dikurang kalau
penyebutnya berbeda ?
31. Apa alasan ada jika penyebutnya sama
itu anda kurangi atau jumlahkan langsung pecahan biasa dengan pecahan biasa
tersebut? 
32. Mengapa anda menulisnya seperti ini
?
33. Mengapa anda menulisnya seperti ini
?
34. Mengapa kedua hal itu sama
?sedangkan penulisannya saja berbeda ? 
35. Mengapa anda langsung menjawab
?
36. Operasi matematika yang mana yang
anda kerjakan terlebih dahulu ?
37. Mengapa anda langsung menjawab
?
38. Mengapa anda tidak menuliskan
jawabanya dalam bentuk pecahan campuran ?
39. Kenapa yang penyebutnya tidak sama
itu disamakan terlebih dahulu agar bisa dikurang atau di jimlahkan ?
40. Kenapa anda menuliskan jawabannya
seperti ini 
41. Kenapa anda melakukan pemeriksaan
ulang ketika anda sudah selesai mengerjakannya ?
42. Apa yang dapat anda simpulkan dari
soal-soal tersebut ?
43. Mengapa anda merubahnya kebentuk
tersebut ?
44. Darimana anda tahu kalau
jawabannya adalah
? 
45. Kenapa anada menjumlahkan langsung
tesebut ?
46. Mengapa anda mejumlahkan langsung
soal
tersebut ?
47. Apaka bisa kita kurangi langsung
tersebut ?
48. Menagpa
kita kalikan dan kemudian kita jumlahkan
terlebih dahulu baru dikurangi ?
49. Kesimpulan apa yang dapat anda tarik dari soal di atas? 
50. Dapatkah anda memberikan jawanban
yang logis dari jawaban yang anda berikan ?
G. Metode
Penelitian
1.
Pendekatan
dan Jenis Penelitian
Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu
proses penelitian yang dilakukan secara wajar dan natural sesuai dengan kondisi
objektif di lapangan tanpa adanya manipulasi, serta jenis data yang dikumpulkan
adalah data kualitatif.[4]
Peneliti
menggunakan pendekatan kualitatif, karena peneliti berusaha memperoleh data
deskriptif berupa kata-kata tertulis (berupa jawaban tertulis mahasiswadalam
menjawab soal), kata-kata lisan (misal pembicaraan keseharian mahasiswa terkait
matematika khususnya pada materi operasi hitung bilangan pecahan).
Penelitian
kualitatif memiliki sejumlah ciri-ciri yang membedakan dengan penelitian jenis
lain. Ciri-ciri tersebut diataranya(1) latar alamiah, (2) manusia sebagai alat
(instrumen), (3) metode kualitatif, (4) analisis data secara kualitatif, (5)
teori dari dasar (grounded theory), (4) deskriptif, (5) lebih mementingkan
proses daripada hasil, (6) adanya batas yang ditentukan oleh fokus, (7) adanya
kriteria khusus untuk keabsahan data, (8) desain yang bersifat sementara, (9)
hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama.[5]
Penelitian
ini menggunakan jenis penelitian deskriptif.Penelitian deskriptif (descriptive
research) adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan
fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung pada saat ini atau saat yang
lampau.10Penelitian deskriptif memiliki langkah-langkah dalam pelaksanaannya.
Langkah-langkah ini sebagai berikut:
a. Diawali
dengan adanya masalah
b. Menentukan
jenis informasi yang diperlukan
c. Menentukan
prosedur pengumpulan data melalui observasi atau pengamatan
d. Pengelolaan
informasi atau data
e. Menarik
kesimpulan penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan
landasan teori yang bisa mendukung penelitian kualitatif. Bogdan & Biklen
menyebut landasan teori sebagai paradigma.Paradigma ini diartikan sebagai
kumpulan longgar tentang asumsi yang secara logis dianut bersama konsep atau
proporsi yang mengarah pada cara berpikir dan cara penelitian. Dalam hal ini,
peneliti menggunakan tipe HOTS untuk menjawab masalah penelitian denganjelas
bagaimana tingkat kesalahan siswa dalam memecahkan masalah pada materi pecahan
di jurusan PGMI mahasiswa semester VI UIN Mataram.
Selain itu, peneliti membuat
instrumen penelitian yaitu berupa lembar tes dan pedoman wawancara yang dapat
menilai tingkat kesalahan siswa dalam pemecahan masalah matematika pada materi
pecahan. Serta menganalisis factor-faktor apa saja yang membuat siswa dapat
melakukan kesalahan dalam memecahkan masalah matematika pada materi pecahan.
2.
Kehadiran
Peneliti
Dalam
penelitian ini, kehadiran peneliti sangat dibutuhkankarena peneliti bertindak
sebagai instrumen kunci.Hal ini didasarkan karena peneliti berpartisipasi
langsung dalam penelitian mulai dari memilih topik, pelaksanaan, pengumpulan
data, penganalisis data, penyimpulan dan pembuatan laporan penelitian.Peneliti
mengumpulkan data secara langsung, yaitu data hasil observasi, tes tertulis,
serta hasil wawancara secara mendalam untuk mengetahui tingkat kemampuan
berpikir kritis mahasiswa.Saat pengumpulan data di lapangan, peneliti berperan
serta dalam kegiatan penelitian dibantu oleh guru dan mahasiswa khususnya
mahasiswa semester VI PGMIuntuk mengumpulkan data sebanyak-banyaknya.
3.
Lokasi
Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan di UIN Mataram yang beralamatkan di Jalan Gajah Mada No. 100, Pagesangan,
Mataram, Jempong Baru, Sekarbela, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Alasan
memilih UIN Mataram:
a. Memnuhi
permintaan dosen serta lokasi penelitian yang mudah dijangkau peneliti.
b. Peneliti
terkat dengan tingkat kesalahan siswa di dalam menyelesaikan masalah matematika
pada materi pecahan pada mahasiswa.
Subjek penelitian dalam penelitian
ini adalah mahasiswa semester VI PGMI.Alasan dipilihnya subjek ini adalah
karena pada kelas ini telah selesai diajarkan terkait materi pecahan.Subjek yang
dipilih dalam penelitian ini berjumlah 6 mahasiswa berdasarkan kemampuan
akademik mereka di bidang matematika yaitu tinggi, sedang, dan rendah pada
semester tersebut.Serta subjek yang dipilih merupakan mahasiswa yang mudak
diajak berkomunikasi.Pemilihan subjek tersebut berdasarkan informasi yang
diberikan dosen mata pelajaran matematika mahasiswa semester VI PGMI.
4.
Data
dan Sumber Data
a.
Data
Data
yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah hasil observasi, hasil
pekerjaan mahasiswa dalam mengikuti tes dan hasil wawancara yang digunakan
penelitian untuk memperjelas tingkat kesalahan mahasiswa dalam memecahkan
maslah matematika yang lakukan oleh mahasiswa. Peneliti menggunakan data
penelitian berupaa tes dan hasil wawancara mahasiswa dalam memecahkan maslah
matematika materi pecahan dengan indicator jenis kesalahan meurut Newman yaitu:
1) Kesalahan karena kecerobohan atau
kurang cermat
2) Kesalahan keterampilan proses
3) Kesalahan dalam memahami soal
4) Kesalahan mentransformasikan
5) Kesalahan menggunakan notasi
6) Kesalahan membaca soal
b.
Sumber
Data
Sumber
data utama dalam penelitian kualitatif ialah berupa kata-kata, tindakan
selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.Sumber data dalam
penelitian ini yaitu 2 mahasiswa terpilih.Berdasarkan sumber data tersebut, 2
mahasiswa terpilih tersebut sebagai subjek wawancara.Pemilihan subjek pada 2 mahasiswa
dibedakan melalui tingkat kemampuan, yaitu tinggidan rendah.Pemilihan subjek
wawancara ini ditentukan berdasarkan pertimbangan dosen mata pelajaran matematika
mahasiswa semester VI PGMI.
seperti
mahasiswa yang mudah diajak berkomunikasi dan bekerja sama. Dari 6 subjek
tersebut merupakan mahasiswa terpilih untuk melakukan tes serta wawancara.
5.
Tekhnik
Pengumpulan Data
Untuk
memperoleh data dari penelitian ini, peneliti menggunakan Instrumen pengumpulan
data berupa tes.Bentuk tes yang digunakan dalam pengumpulan data adalah tes
uraian yang menggambarkan tingkat kealahan siswa pada materi pecahan.
Dipilihnya tes uraian pada penelitian ini karena untuk menyesuaikan dengan
penelitian ini yaitu pemecahan masalah berdasarkan indicator kesalahan newman.
Tes yang diberikan disusun sendiri oleh peneliti dan sudah dikonsultasikan
dengan guru bidang studi. Tes merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan
dalam rangka melaksanakan kegiatan pengukuran, yang di dalamnya terdapat
berbagai pertanyaan, pernyataan, atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan
atau dijawab oleh peserta didik untuk mengukur aspek perilaku peserta didik.
Untuk
teknik pengumpulan data.Adapun teknik pengumpulan datanya adalah menggunakan Think Aloud Method.
Think Aloud Method adalah
suatu teknik dalam pengumpula data dimana mahasiswa diminta untuk mengungkapkan
ekspresi verbal tentang ide yang dipikirkan ketika menyelesaikan soal tes
tersebut. Dalam hal ini, pelaksanaan pengumpulan data dengan menggunakan Think Aloud Method, yaitu mahasiswa
diberikan tes berbentuk soal cerita dengann meminta siswa untuk mengungkapkan
ide yang dipikirkan ketika menyelesaikan soal bentuk cerita pada operasi hitung
pecahan secara verbal dan tertulis, peneliti akan memberikan
pertanyaan-pertanyaan yang mendalam atas jawaban yang diberikan subjek dengan
didukung oleh alat perekam. Dengan demikian hasil Think Aloud Methodakan diperoleh jawaban secara verbal dan
tertulis. Setelah diberikan tes yang pertama, kemudian diberikan tes yang kedua
pada waktu yang berbeda untuk mendapat data yang valid.
Setelah
itu, maka didapatkan gambaran bagaimana proses berpikir mahasiswa semester VI
PGMI dalam memecahkan masalah bentuk soal cerita pada materi operasi hitung
pecahan.
6.
Analisis
Data
Analisis
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data deskriptif
kualitatif. Analisis data menurut Bogdan dan Biklen adalah: “Upaya yang
dilakukan dengan jalan bekerja dengan data mengorganisasikan data,
memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari
dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, untuk
memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Dalam
menganalisis data, jawaban siswa ditentukan dari hasil akhirnya saja tetapi
dilihat dari langkah-langkah yang digunakan siswa karena yang ditekankan adalah
pemahaman konsep siswa dalam menyelesaikan soal-soal operasi hitung pada
bilangan pecahan.
Berdasarkan
beberapa kesalahan yang dilakukan oleh siswa, diperoleh bentuk-bentuk kesalahan
yang dapat dikelompokkan kedalam 6 tipe kesalahan, yaitu, (1) kesalahan karena
kecerobohan atau kurang cermat, (2) kesalahan dalam keterampilan proses, (3)
kesalahan dalam memahami soal, (4) kesalahan transformasi, (5) kesalahan dalam
penggunaan notasi, (6) kesalahan membaca soal.
Data
yang diperoleh dalam penelitian ini berupa data hasil observasi, tes,
wawancara, dan dokumentasi. Kemudian data yangdiperoleh dianalisis menurut
Miles dan Huberman dalam beberapa tahap sebagai berikut:
a. Reduksi
data
Mereduksi
data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal
yang penting, dicaritema da polanya dan memebuang yang tidak perlu. Dengan
demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang jelas, dan
mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan
menganalisis data. Tahap ini dilakukan untuk merangkum data, memfokuskan pada
hal-hal yang penting. Tahap reduksi data dalam penelitian ini meliputi:
1)
Mengumpulkan hasil
observasi yang di peroleh sebagai bahan untuk wawancara.
2)
Hasil wawancara
disederhanakan menjadi susunan bahasan yang baik kemudian ditransformasikan ke
dalam catatan dan dipadukan dengan hasil tes.
b. Penyajian
Data
Paparan
data adalah penjabaran data yang sedemikian rupa sehingga dapat dipahami secara
jelas. Pembeberan data yang sistematis, interaktif, dan inventif akan
memudahkan pemahaman terhadap apa yang telah terjadi sehingga memudahkan
penarikan kesimpulan atau menentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.
Dalam penelitian ini data yang akan didapat berupa hasil tes pekerjaan siswa,
kalimat, kata-kata yang berhubungan dengan acto penelitian disusun dalam bentuk
kata-kata yang urut sehingga sajian data yang merupakan sekumpulan informasi
yang tersusun secara sistematis dapat memberikan kemungkinan untuk ditarik
kesimpulan. Tahap paparan data dalam penelitian ini meliputi:
1)
Menyajikan data yang
diperoleh saat observasi
2)
Menyajikan hasil
wawancara yang dipadukan dengan hasl tes.
Dari hasil paparan data dilakukan
analisis.Kemudian disimpulkan, sehingga mampu menjawab permasalahan dalam
penelitian ini.
c. Menarik
kesimpulan
Berdasarkan
hasil pengolahan data di atas, peneliti menyimpulkan hasil penelitian
deskriptif dengan cara menjawab pertayaan-pertanyaan penelitian dan
mensintesiskan semua jawaban tersebut dalam satu kesimpulan yang merangkum
permasalahan penelitian secara keseluruhan. Caranya yaitu membandingkan hasil
observasi, hasil tes dan hasil wawancara, maka dapat ditarik suatu kesimpulan
mengenai Analisis kesalahan siswa dalam memecahkan masalah matematika pada
materi operasi hitung pecahan.
7.
Pengecekan
Keabsahan Data
Teknik
pengecekan kebasahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
menggunakan Triangulasi data. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan
data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan
pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.Triangulasi ini dilakukan
dengan cara menggabungkan beberapa data-data yang telah terkumpul sehingga
diperoleh data yang benar-benar acto dan objektif. Pada penelitian ini
menggunakan jenis teriangulasi waktu yaitu memberikan tes pertama ke subjek
kemudian melakukan tes kedua pada subjek yang sama dengan menggunakan
instrument tes yang sama maupun berbeda pada waktu yang berbeda minimal satu
minggu sejak tes pertama dilakukan.
BAB II
PAPARAN DATA DAN TEMUAN
Dalam penelitan
ini data diperoleh dari metode tes dan wawancara.Metode tes digunakan untuk
mengetahui bentuk-bentuk kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan
soal-soal yang berkaitan dengan operasi hitung bilangan pecahan.Dalam
menganalisis data, jawaban siswa ditentukandari hasil akhirnya saja tatapi
dilihat dari langkah-langkah yang digunkan oleh mahasiswa karena yang
ditentukan adalah pemahaman konsep mahasiswa dalam menyelesaikan soal-soal
operasi hitung pada bilangan pecahan.
Berdasarkan
beberapa kesalahan yang dilakukan oleh siswa, diperoleh bentuk-bentuk kesalahan
yang dapat dikelompokkan kedalam 6 tipe kesalahan, yaitu, (1) kesalahan karena
kecerobohan atau kurang cermat, (2) kesalahan dalam keterampilan proses, (3)
kesalahan dalam memahami soal, (4) kesalahan transformasi, (5) kesalahan dalam
menggunakan notasi, dan (6) kesalahan membaca notasi.
Table 2
Jumlah
Tiap-Tiap Tipe Kesalahan
|
No
soal
|
Materi
|
keterangan
|
Total
kesalahan
|
||||||
|
kode
|
kode
|
kode
|
kode
|
kode
|
kode
|
||||
|
1
|
Pecahan biasa dengan
pecahan biasa
|
Penyebut sama
|
2
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
2
|
|
Penyebut tidak sama
|
5
|
2
|
-
|
-
|
-
|
-
|
7
|
||
|
2
|
Pecahan campuran
dengan pecahan biasa
|
Penyebut sama
|
3
|
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
4
|
|
Penyebut tidak sama
|
5
|
2
|
-
|
-
|
-
|
-
|
7
|
||
|
1
|
Pecahan
biasa
dengan
pecahan biasa
|
Penyebut
sama
|
2
|
3
|
-
|
-
|
-
|
-
|
5
|
|
Penyebut
tidak sama
|
6
|
1
|
-
|
-
|
1
|
-
|
8
|
||
|
2
|
Pecahan
campuran dengan pecahan biasa
|
Penyebut
sama
|
6
|
1
|
1
|
-
|
-
|
-
|
8
|
|
Penyebut
tidak sama
|
9
|
2
|
1
|
-
|
-
|
-
|
12
|
||
BAB III
PEMBAHASAN
A. Pembahasan
Tes Berdasarkan Tipe Kesalahan I
Tipe kesalahan I (kesalahan karena
kecerobohan atau kurang cermat) adalah kesalahan dalam proses penyelesaian
dimana siswa tidak menguasai suatu konsep matematika dan siswa kurang menguasai
teknik berhitung, antara lain adalah didalam mengerjakan siswa langsung
menjawab soal tanpa menulis langkah-langkahnya.
Jenis
soal pecahan biasa dengan pecahan biasa (penyebutnya sama)
Jawaban
siswa pada tes pertama
, keterangan; Terlihat sekali bahwa mahasiswa itu melakukan kesalahan
karena siswa itu tidak menguasai suatu konsep suatu bilangan
pecahan.Mahasiswa langsung menjumlahkan
bilangan tersebut dan akhirnya mahasiswa itu pun salah dalam menjawab soal
tersebut.
Hasil Wawancara: berdasarkan hasil wawancara, ternyata siswa masih
bingung bagaimana cara untuk menyelesaikan soal tersebut. Hal ini didukung
dengan cara mengerjakan siswa saat diberi soal 2 atau tes kedua pada tanggal 23
mei 2019
siswa menjawab
.
Berdasarkan
contoh Tipe kesalahan I (kesalahan karena keserobohan atau kurang cermat), dari
kesalahan siswa tersebut terdapat berbagai macam-macam actor yang menjadi
pemikiran disebalik kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal-soal operasi
pecahan pada bulat. Faktor-faktor tersebut yaitu siswa kurang teliti didalam
mengerjakanya(siswa ceroboh),siswa merasa bingung dalam mengerjakan operasi
pacahan pada notasi-notasi tertentu. Kesalahan-kesalahan tersebut dikarenakan
siswa tidak menguasai konsep dari operasi bilangan pecahan pada bilangan.
B.
Pembahasan
Tes Berdasarkan Tipe Kesalahan II
Tipe kesalahan II
(kesalahan dalam keterampilan proses) adalah Siswa dalam menggunakan kaidah
atau aturan sudah benar atau siswa sudah bisa menguasai konsep, tetapi siswa
melakukan kesalahan dalam melakukan penghitungan atau komputasi. Prosentase
berdasarkan tipe kesalahan II adalah:
Jenis soal
pecahan biasa dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Jawaban
siswa pada tes pertama
, Keterangan; Siswa itu sudah menggunakan kaidah atau aturan kerja
operasi pada bilangan pecahan tetapi siswa melakukan keslahan dalam menghitung
dan menyebabkan hasil dari jawabannya pun salah.
Hasil Wawancara :Berdasarkan hasil dari wawancara dengan
siswa kesalahan yang didapat adalah siswa tergesa-gesa ingin cepat
menyelesaikanya dan saat diberi soal yang sama pada tes kedua dengan
didampinggi,siswa itu bisa mengerjakan.
Berdasarkan dari
contoh Tipe kesalahan II (kesalahan karena keterampilan proses), dari kesalahan
siswa tersebut terdapat berbagai macam actor-faktor yang menjadi pemikiran dibalik
kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal opersi hitung pada bilangan pecahan.Faktor-faktor
tersebut yaitu siswa melakukan kesalahan dalam penghitungan dan siswa tergesa-gesa
didalam menulis jawaban akhir yang membuat jawaban tersebut menjadi salah.
C.
Pembahasan Tes Berdasarkan Tipe
Kesalahan III
Tipe kesalahan
III (kesalahan memahami soal) adalah siswa sebenarnya sudah dapat memahami
soal, tetapi belum menangkap informasi yang terkandung dalam pertanyaan,
sehingga siswa tidak dapat menyelesaikan solusi dari permasalahan atau siswa
tidak bisa menuliskan hasil akhir dari soal. Prosentase berdasarkan tipe
kesalahan III adalah:
Jenis soal pecahan campuran dengan pecahan
biasa (penyebut sama)
Jawaban siswa pada tes pertama :
, Keterangan; Sebenarnya
siswa sudahmemahami soal tetapi siswa belum
menangkap informasi yang terkandung dalam soal yang membuat siswa tidak bisa
mengisi jawaban akir dari soal itu.
Hasil
Wawancara: Berdasarkan wawancara dengan siswa
kesalahan yang didapat siswa merasa bimbang dan bingung untuk menyelesaikan
soal tersebut dan pada tes kedua setelah di beri masukan tetap siswa itu merasa
bimbang untuk melanjutkan jawabannya.
Berdasarkan dari
contoh tipe kesalahan III (kesalahan memahami soal), dari kesalahan siswa
tersebut, terdapat berbagai macam actor-faktor yang menjadi pemikiran disebalik
kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal-soal opersi bilangan
pecahan.Faktor-faktor tersebut yaitu siswa langsung menjawab hasilnya tanpa
membuat menulis hasilnya dan siswa tergesa-gesa dalam menjawab soal yang
mengakibatkan siswa lupa menulis hasilnya.
D.
Pembahasan Tes Berdasarkan Tipe
Kesalahan VI
Tipe kesalahan VI
(kesalahan dalam mentransformasi) adalah kesalahan siswa yang sering dijumpai
kesalahan dalam proses penyelesaian dikarenakan kurang memahami konsep. Didalam
menyelesaikan soal-soal operasi hitung pada bilangan pecahan kesalahan yang
dilakukan seperti salah dalam mentransformasikan.
Jenis soal
pecahan campuran dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Jawaban siswa
pada tes pertama :
, Keterangan; Siswa itu sudah benar tapi siswa itu gagal dalam
mentransformasikan kalimat matematika yang berbentuk pecahan campuran. Akan
tetapi siswa itu menggunakan pecahan decimal.
Hasil Wawancara: Berdasarkan hasil dari wawancara
kesalahan yang dilakukanoleh siswa adalah
tetapi siswa
menjawabnya 36 hasilnyapun salah.
E. Pembahasan Tes Berdasarkan Tipe Kesalahan V
Tipe kesalahan V
(kesalahan dalam menggunakan notasi) adalah kesalahan siswa yang sering
dijumpai kesalahan dalam proses penyelesaian dikarenakan kurang memahami
konsep. Didalam menyelesaikan soal-soal operasi hitung pada bilangan pecahan
kesalahan yang dilakukan seperti salah dalam mengubah operasi bilangan.
Prosentase berdasarkan tipe kesalahan V adalah:
Jenis soal
pecahan biasa denagan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Jawaban siswa
pada tes pertama
,
Keterangan; Siswa itu sudah benar dalam
menentukan bilangannya tetapi salah dalam menggunakan notasinya yaitu siswa
menggunakan notasi penjumlahan yang seharusnya pengurangan.
Hasil Wawancara: Berdasarkan hasil dari wawancara
kesalahan yang didapat adalah siswa salah menulis notasi yang seharusnya
pengurangan menjadi penjumlahan. Akan tetapi pada tes yang kedua siswa juga
masih salah dalam menggunakan notasi yang menyebabkan ia salah.
Berdasarkan dari
contoh tipe kesalahan V (kesalahan dalam menggunakan notasi), dari kesalahan siswa
tersebut, terdapat berbagai macam actor-faktor yang menjadi pemikiran disebalik
kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal-soal operasi pada
bilangan.Faktor-faktor tersebut yaitu siswa tergesa-gesa dalam menjawab
mengerjakan soal dan siswa salah dalam menuliskan notasi dalam soal yang
membuat jawaban siswa menjadi salah.
Berdasarkan dari
contoh tipe kesalahan V (kesalahan dalam menggunakan notasi), dari kesalahan
siswa tersebut, terdapat berbagai macam actor-faktor yang menjadi pemikiran
disebalik kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal-soal operasi pada
bilangan.Faktor-faktor tersebut yaitu siswa tergesa-gesa dalam menjawab
mengerjakan soal dan siswa salah dalam menuliskan notasi dalam soal yang
membuat jawaban siswa menjadi salah.
F. Pembahasan
Tes Berdasarkan Tipe Kesalahan VI
Tipe kesalahan VI
(kesalahan dalam membaca soal) adalah kesalahan siswa yang sering dijumpai
kesalahan dalam proses penyelesaian dikarenakan kurang memahami konsep atau
salah dalam membaca soal. Didalam menyelesaikan soal-soal operasi hitung pada
bilangan pecahan kesalahan yang dilakukan seperti salah dalam membaca soal
pecahan yang berbentuk cerita. Prosentase berdasarkan tipe kesalahan VI:
Jenis soal
pecahan biasa dengan pecahan biasa
(penyebut tidak sama)
Jawaban siswa
pada tes prtama
,
Keterangan; Siswa menjawab dengan benar akan
tetapi siswa itu menggunakan pecahan decimal , ini di sebakan karena siswa itu
salah dalam membaca kata-kata penting dalam pengerjakaan matematika.
Hasil Wawancara: Berdasarkan hasil dari wawancara kesalahan yang
dilakukanoleh siswa adalah menggunakan
actor ini disebabkan karena siswa itu salah dalam membaca perintah dari soal
tersebut, setelah
dilakukan tes kedua setelah mendapatkan pencerahan siswa itu bisa menjawab
dengan benar sesuai perintah.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil
penelitian yang diperoleh, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Berdasarkan
prosentase kesalahan pada tiap-tiap kesalahan yang didapat di UIN Mataram
adalah: kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat yaitu sebesar 66,67%;
kesalahan dalam keterampilan proses yaitu sebesar 26,04%; kesalahan memahami
soal yaitu sebesar 4,17%; kesalahan dalam mengunakan notasi yaitu sebesar
3,13%.
2. Faktor-faktor yang menjadi pemikiran
disebalik kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal operasi
pada bilangan pecahan, actor-faktor itu adalah sebagai berikut :
a. Banyak siswa yang ceroboh saat
mengerjakan seperti siswa kurang teliti, terburu-buru tanpa mengoreksi kembali
kerjaannya, sehingga siwa tidak mengetahui jika pekerjaannya masih salah atau
malah belum dikerjakan.
b. Siswa belum mengerti benar tentang
operasi pada bilangan pecahan, yang membuat siswa salah dalam mengerjakan
soal-soal operasi bilangan pecahan.
c. Siswa agak lama memahami soal karena
bahasa yang digunakan sehari-hari berbeda, siswa hanya mementingkan hasil akhir
saja tanpa memberi keterangan yang jelas dalam menjawab soal.
d. Siswa yang benar-benar mengerjakan soal
dengan sungguh-sungguh hanya beberapa orang saja dan yang lainnya banyak yang
cerita sendiri, banyak siswa yang menunggu jawaban teman untuk mengerjakan
soal.
Berdasarkan beberapa actor-faktor
di atas dapat dilihat bahwa pemikiran disebalik kesalahan yang dilakukan siswa
terjadi karena adanya konflik kognitif.Kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa
karena pemahaman konsep pada materi operasi pada bilangan pecahan masih kurang,
hal ini disebabkan siswa kurang menyukai mata pelajaran matematika, kesalahan
bisa juga terjadi pada buku panduan dan penyampaian konsep guru yang salah.
B. Saran
Bagi
siswa:
1. Kesalahan
karena kecerobohan atau kurang cermat yaitu siswa hendaknya harus banyak-banyak
berlatih mengerjakan soal-soal matematika supaya menjadi terbiasa dan
memperkecil kecerobohan-kecerobohan itu.
2. Kesalahan
dalam keterampilan proses yaitu siswa hendaknya konsep dasar siswa lebih
dipahami supaya dalam melanjutkan prosedur penyelesaian tidak macet.
3. Kesalahan
memahami soal yaitu hendaknya siswa harus latihan untuk memfokuskan diri pada
soal agar mudah didalam menangkap apa maksud soal.
4. Kesalahan
dalam mengunakan notasi yaitu hendaknya siswa harus benar-benar meneliti
kembali jawaban yang sudah ditulis agar jawaban itu tidak salah.
Bagi Calon Guru:
1. Pemahaman
makna dalam setiap soal lebih ditekankan supaya siswa tidak keliru dalam
mentransformasikan soal.
2. Konsep yang diberikan harus benar-benar
sudah dikuasai oleh guru agar bisa dijadikan pedoman dasar siswa untuk materi
selanjutnya.
3. Guru harus lebih kreatif lagi
menggunakan alat peraga yang menarik agar materi mudah dipahami oleh siswa
siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Budiyono. 2003. Metodologi
Penelitian Pendidikan. Surakarta : UNS-Press.
Clements, M. N. 1980. Analysing Children’s Error on Mathematical Taks.Education Studies in Mathematics.
11.1-21.
Maleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif.Bandung : PT Remaja Rosdakarya
(ROSDA).
Maya Mulyani dan Dedi Muhtadi (2019).Analisis
Kesalahan Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Trigonometri Tipe Higher Order Thinking Skill Ditinjau
Dari Gender. JPPM Vol. 12 No. 1
Arifin, Zainal,2012Penelitian Pendidikan: Metode dan Paradigma Baru ,Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya Offset.
Rasiman, “Leveling of Student’s Critical Ability in
Solving Mathematics Problem Base on Gender Differences”, International
Jurnal of Education and Research, Vol 3 No. 4, April 2015, 307-318.
Iyad Mulyadi, Dedi Muhtadi. Jurnal Penelitian
Pendidikan dan Pengajaran Matematika.
Proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah geometri berdasarkan Teori
Van Hiele ditinjau dari gender .vol.
4 no. 1, pp. 1–8. Terbit: 31 Maret 2019.
LAMPIRAN
Tes 1 dan Tes 2





[1]Iyad
Mulyadi, Dedi Muhtadi. Jurnal Penelitian Pendidikan dan
Pengajaran Matematika.
Proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah geometri berdasarkan Teori
Van Hiele ditinjau dari gender .vol. 4
no. 1, pp. 1–8. terbit: 31 Maret 2019.
[2]Maya Mulyani dan Dedi Muhtadi(2019).Analisis Kesalahan Siswa
Dalam Menyelesaikan Soal Trigonometri Tipe Higher Order Thinking Skill Ditinjau Dari Gender.JPPM Vol. 12 No. 1
[3]Asian
Social Science; Vol. 11, No. 21; 2015.Analysis
of Students’ Errors in Solving Higher Order Thinking Skills (HOTS) Problems for
the Topic of Fraction.Online Published: July 6, 2015
[4]Zainal
Arifin, Penelitian Pendidikan: Metode dan Paradigma Baru , (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya Offset, 2012), hal. 140
[5]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar