Kamis, 30 Mei 2019

CONTOH ARTIKEL


ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL PADA OPERASI BILANGAN PECAHAN MENGGUNAKAN TIPE KESALAHAN NEWMAN

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis kesalahan yang dilakukan mahasiswa pada materi operasi bilangan pecahan, dan mendeskripsikan factor yang menyebabkan mahasiswa mengalami kesalahan dalam menyelesaikan soal cerita operasi bilangan pecahan dengan menggunakan  tipe kesalahan newman.Penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif dengan pendekatan kualitatif.Subjek penelitian ini adalah 2 orang siswa yaitu 1 laki-laki yang berkemampuan tinggi dan 1 perempuan berkemampuan tinggi mahasiswa PGMI semester VI UIN Mataram.Penelitian ini dengan menentukan subjek dengan menggunakan instrument pengumpulan data berupa tes.Pengumpulan data dilakukan dengan Think Aloud Method.Pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi waktu.Berdasarkan hasil penelitian bahwa kkesalahan tipe1 yaitu kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat 66,67% kesalahan tipe 2 yaitu kesalahan dalam keterampilan proses sebesar 26,04% kesalahan tipen3 yaitu kesalahan dalam memahami soal sebesar4, 17% kesalahan tipe 4 yaitu kesalahan transformasi 2,00%, kesalahan tipe 5 yaitu kesalalhan menggunakan notasi sebesar 3,13% kesalah tippe 6 yaitu kesalahan membaca sebesar 1%. Secara keseluruhan  kesalahan yang dilakukan karena kesalahan keterampilan proses yaitu mahasiswa  dalam menggunakan kaidah atau aturan sudah benar, tetapi melakukan kesalahan saat melakukan perhitungan. Dengan penyebab kesalahan ini mahasiswa cendrung tidak memerhatikan pelajaran, kurang teliti dalam mengerjakanny dan kurang latihan.

Kata kunci: Analisis kesalahan, tipe kesalahan newman, bilangan pecahan
 



Abstract:This research aims to identify the types of mistakes that students do on fractional number operating materials, and describe the factor that cause students to experience mistakes n resolving the story of sugery. The number of fractions. This research is a descriftive study wiyh a qualitative approach. The subject of ths study is 2 students, 1 male and 1 fammale students of the semester VI UIN Mataram. This research by determining the subject by using the data collection instrument in the from of tests. Data collection is done with the Think Aloud Method. Check the validity of data Using time triangulastion. Based on the results of the study that the fault tipe 1 is an error due to carelessness or less careful 66.67% fault type 2 IE error in process skill of 26.04% error type 3 ie error in understanding the problem of 17& type 4 error, namely the transformation error 2.00%, type5 error that is using a natation of 3.13% mistake type 6 ie read error of 1%. Overall mistakes are done due to the mistake of the process skills that students in using rules or regulations are correct, butnmake mistakes while doing calculations. With the cause of this error students nudge not notice the lesson, thorough in the work and lack of exercise.

Keywords: Error analysis, Newman error type, Fraction
 


A.      PENDAHULUAN
Tujuan pembelajaran matematika yaitu memahami konsep matematika, menggunakan penalaran, memecahkan masalah, mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah, dan memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan (Wardhani, 2008).
Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menghadapi banyak permasalahan.Permasalahan-permasalahan itu tentu saja tidak semuanya merupakan permasalahan matematis, namun matematika memiliki peranan yang sangat sentral dalam menjawab permasalahan keseharian itu (Suherman, 2005:65).Ini berarti bahwa matematika sangat diperlukan oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu memecahkan permasalahan. Oleh karena itu, tidak salah jika pada bangku sekolah, matematika menjadi salah satu mata pelajaran pokok yang diajarkan dari bangku taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.
Rendahnya kemampuan matematika siswa disebabkan oleh faktor siswa yaitu mengalami masalah secara komprehensif atau secara parsial dalam matematika, didalam memberikan meteri pembelajaran matematika guru sering menyampaikan melalui ceramah saja sehingga siswa-siswi sulit menangkap konsep yang diberikan oleh guru. Padahal jika suatu konsep tidak diberikan dengan benar maka siswa-siswi akan kesulitan dalam melanjutkan materi berikutnya.
Keabstrakan mempelajari matematika merupakan suatu hal yang paling sulit, paling tidak disukai,  tidak  disenangi,  dan  dianggap  sukar  dalam  dunia  pendidikan  untuk  sebagian besar siswa. Ruseffendi (2010) mengatakan bahwa matematika (ilmu pasti) bagi anak- anak pada umumnya merupakan mata pelajaran yang pembelajarannya tidak disenangi kalau bukan sebagai mata pelajaran yang dibenci. Hal ini diperkuat oleh Cockcroft (1982) yang menyatakan bahwa mathematics is a difficult subject both to teach and to learn atau matematika merupakan pelajaran yang sulit untuk diajarkan maupun dipelajari.
Anggapan tersebut harusnya bisa ditepis karena dalam matematika terkandung suatu cara seseorang belajar berpikir dan bernalar yang bermanfaat dalam mengolah otaknya. Apabila siswa bisa menguasai dan memahami soal-soal matematika, akan timbul rasa keingintahuan untuk menemukan jawaban dari soal yang diberikan. Dalam proses menemukan jawaban tersebut, siswa mendapatkan tantangan untuk bisa menyelesaikan soal tersebut dengan cara mereka sendiri. Karena setiap siswa mempunyai cara berpikir masing-masing. Satu keyakinan penting yang perlu dimiliki oleh para guru terhadap siswanya, bahwa setiap individu lahir dengan membawa potensi. Dengan keyakinan demikian, harapannya akan muncul  kesungguhan  untuk lebih peka dan cermat dalam  berusaha  menemukan  serta mengembangkan potensi yang dimiliki siswa.
Pemecahan masalah dalam matematika di  sekolah  biasanya diwujudkan melalui  soal  cerita.  Dalam penyelesaian soal cerita, siswa dituntut untuk dapat memahami konteks permasalahan yang diberikan, menemukan metode penyelesaian, dan menafsirkan kembali penyelesaian yang diperoleh. Menurut NCTM (2000:52), pemecahan masalah merupakan proses menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya pada situasi baru dan berbeda. Selain itu NCTM mengungkapkan tujuan pengajaran pemecahan masalah secara umum adalah untuk (1) membangun pengetahuan matematika baru, (2) memecahkan masalah yang muncul dalam matematika dan di dalam kontekskonteks lainnya, (3) menerapkan dan menyesuaikan bermacam strategi yang sesuai untuk memecahkan permasalahan dan (4) memantau dan merefleksikan proses dari pemecahan masalah matematika. Sehingga pemecahan masalah dan penalaran menjadi salah satu fokus utama dalam pembelajaran matematika sekolah.
Salah satu strategi pembelajaran yang mengkaitkan soal-soal tipe Higher Order Thinking Skill (HOTS)  adalah  pemecahan masalah. Lester F K & Kehle P E (2003) menyatakan bahwa pemecahan masalah adalah kegiatan yang melibatkan berbagai tindakan dalam pikiran termasuk aplikasi dalam penggunaan pengetahuan dan pengalaman.Dalam penyelesaian soal tipe HOTS siswa dituntut untuk dapat memahami konteks permasalahan yang diberikan, menemukan metode    penyelesaian, dan menafsirkan kembali penyelesaian yang diperoleh. Sebagaimana dinyatakan oleh Mayer  (1987)  kemampuan  ranah pengetahuan mencakup (a) pengetahuan bahasa dan fakta, (b) pengetahuan skema, (c) pengetahuan algoritma, dan (d) pengetahuan strategis. Sehingga siswa perlu dibekali dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan tinggi dalam pemecahan masalah dan penalaran menjadi salah satu fokus utama dalam pembelajaran matematika sekolah.Pada peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 54 tahun 2013 dijelaskan bahwa “Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan”. Hal ini berarti bahwa untuk mengukur pencapaian hasil belajar tidak hanya pada kemampuan siswa dalam menguasai materi pembelajaran atau  hanya  dalam  aspek  pegetahuan (kognitif) saja, tetapi untuk melihat pencapaian hasil belajar siswa harus dilihat dari tiga  aspek  secara  komprehensif, yaitu pengetahuan (kognitif), sikap (afeksi) dan keterampilan (psikomotorik).
Permendikbud No. 22 tahun 2016 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah bahwa penilaian aspek pengetahuan terbagi menjadi 5 level, yaitu: mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi. Hal ini menunjukkan bahwa pada ranah kognitif terdapat dua level yang termasuk Higher Order Thinking Skill (HOTS). Soal-soal HOTS menuntun siswa untuk berpikir tingkat tinggi dan dihubungkan dengan problematika dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 54 tahun 2013  seharusnya soal  ujian nasional yang diselenggarakan di Indonesia mencakup soal-soal pada tingkat Higher Order Thinking Skill (HOTS) agar tercipta Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas yang mampu memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

B.      METODE PENELITIAN
Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu proses penelitian yang dilakukan secara wajar dan natural sesuai dengan kondisi objektif di lapangan tanpa adanya manipulasi, serta jenis data yang dikumpulkan adalah data kualitatif.
Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif, karena peneliti berusaha memperoleh data deskriptif berupa kata-kata tertulis (berupa jawaban tertulis mahasiswadalam menjawab soal), kata-kata lisan (misal pembicaraan keseharian mahasiswa terkait matematika khususnya pada materi operasi hitung bilangan pecahan).
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif.Penelitian deskriptif (descriptive research) adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung pada saat ini atau saat yang lampau.10 Penelitian deskriptif memiliki langkah-langkah dalam pelaksanaannya. Langkah-langkah ini sebagai berikut:
1.       Diawali dengan adanya masalah.
2.       Menentukan jenis informasi yang diperlukan.
3.       Menentukan prosedur pengumpulan data melalaui observas atau pengamatan.
4.       Pengelolaan informasi atau data.
5.       Menarik kesimpulan penelitian.
Dalam penelitian ini menggunakan landasan teori yang bisa mendukung penelitian kualitatif. Bogdan & Biklen menyebut landasan teori sebagai paradigma.Paradigma ini diartikan sebagai kumpulan longgar tentang asumsi yang secara logis dianut bersama konsep atau proporsi yang mengarah pada cara berpikir dan cara penelitian. Dalam hal ini, peneliti menggunakan tipe HOTS untuk menjawab masalah penelitian denganjelas bagaimana tingkat kesalahan siswa dalam memecahkan masalah pada materi pecahan di jurusan PGMI mahasiswa semester VI UIN Mataram.
Selain itu, peneliti membuat instrumen penelitian yaitu berupa lembar tes dan pedoman wawancara yang dapat menilai tingkat kesalahan siswa dalam pemecahan masalah matematika pada materi pecahan. Serta menganalisis factor-faktor apa saja yang membuat siswa dapat melakukan kesalahan dalam memecahkan masalah matematika pada materi pecahan.
Dalam penelitian ini, kehadiran peneliti sangat dibutuhkan karena peneliti bertindak sebagai instrumen kunci.Hal ini didasarkan karena peneliti berpartisipasi langsung dalam penelitian mulai dari memilih topik, pelaksanaan, pengumpulan data, penganalisis data, penyimpulan dan pembuatan laporan penelitian.Peneliti mengumpulkan data secara langsung, yaitu data hasil observasi, tes tertulis, serta hasil wawancara secara mendalam untuk mengetahui tingkat kemampuan berpikir kritis mahasiswa.Saat pengumpulan data di lapangan, peneliti berperan serta dalam kegiatan penelitian dibantu oleh guru dan mahasiswa khususnya mahasiswa semester VI PGMI untuk mengumpulkan data sebanyak-banyaknya.
Penelitian ini dilaksanakan di UIN Mataram yang beralamatkan di Jalan Gajah Mada No. 100, Pagesangan, Mataram, Jempong Baru, Sekarbela, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Alasan memilih UIN Mataram:
1.       Memenuhi permintaan dosen serta lokasi peneliti yang mudah dijangkau peneliti.
2.       Peneliti terikat dengan tingkaat kesalahan siswa di dalam mmenyelesaikan masalah matematika pada materi pecahan pada mahasiswa.
Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester VI PGMI.Alasan dipilihnya subjek ini adalah karena pada kelas ini telah selesai diajarkan terkait materi pecahan.Subjek yang dipilih dalam penelitian ini berjumlah 6 mahasiswa berdasarkan kemampuan akademik mereka di bidang matematika yaitu tinggi, sedang, dan rendah pada semester tersebut.Serta subjek yang dipilih merupakan mahasiswa yang mudak diajak berkomunikasi.Pemilihan subjek tersebut berdasarkan informasi yang diberikan dosen mata pelajaran matematika mahasiswa semester VI PGMI.
Data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah hasil observasi, hasil pekerjaan mahasiswa dalam mengikuti tes dan hasil wawancara yang digunakan penelitian untuk memperjelas tingkat kesalahan mahasiswa dalam memecahkan maslah matematika yang lakukan oleh mahasiswa. Peneliti menggunakan data penelitian berupaa tes dan hasil wawancara mahasiswa dalam memecahkan maslah matematika materi pecahan dengan indicator jenis kesalahan meurut Newman yaitu:
1.       Kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat.
2.       Kesalahan dalam keterampilan proses
3.       Kesalahan dalam memahami soal
4.       Kesalahan menstransformasikan
5.       Kesalahan menggunakan notasi
6.       Kesalahan membaca soal

Table 1 indikator kesalahan menurut newman
Jenis kesalahan
Indicator
kode
Soal beserta jawaban yang benanr
Simulasi dari indikator
Kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat
Tidak menguasai konsep, dan mahasiswa kurang menguasai teknik berhitung


·                       Pecahan biasa dengan pecahan biasa (penyebut sama)
Bentuk soal: 
Soal:
Jawaban siswa
Keterangan:
Terlihat sekali bahwa mahasiswa itu melakukan kesalahan karena siswa itu tidak menguasai suatu konsep suatu bilangan pecahan. Mahasiswa  langsung menjumlahkan bilangan tersebut dan akhirnya mahasiswa itu pun salah dalam menjawab soal tersebut.
Kesalahan keterampilan proses
Mahasiswa sudah menguasai konsep tapi mahasiswa  salah dalam melakukan perhitungan atau komputasi




·                    Pecahan biasa dengan pecahan biasa( penyebut tidak sama)
Bentuk soal:
Soal:

Jawaban siswa :
Keterangan:
Siswa itu sudah menggunakan kaidah atau aturan kerja operasi pada bilangan pecahan tetapi siswa melakukan keslahan dalam menghitung dan menyebabkan hasil dari jawabannya pun salah.
Kesalahan dalam memahami soal
Mahasiswa belum menangkap informasi yang terkandung dalam pernyataan sehingga mahasiswa tidak dapat memperoses lebih lanjut dari permasalahan.






·                    Pecahan campuran dengan pecahan biasa (penyebut sama)
Bentuk soal:
Soal:

Jawaban siswa:
Keterangan:
Sebenarnya siswa sudahmemahami soal tetapi siswa belum menangkap informasi yang terkandung dalam soal yang membuat siswa tidak bisa mengisi jawaban akir dari soal itu.
Kesalahan mentransformasikan
Mahasiswa gagal dalam mengubah kalimat matematika yang benar.


·                    Pecahan campuran dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Bentuk soal:
Soal:

Jawaban siswa:
Keterangan:
Siswa itu sudah benar tapi siswa itu gagal dalam mengubah kalimat matematika yang berbentuk pecahan campuran.akan tetapi siswa itu menggunakan pecahan decimal.
Kesalahan menggunakan notasi
Mahasiswa salah dalam menggunakan notasi

·                    Pecahan biasa dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Bentuk soal:
Soal:
Jawaban siswa:
Keterangan:
Siswa itu sudah benar dalam menentukan bilangannya tetapi salah dalam menggunakan notasinya yaitu siswa menggunakan notasi penjumlahan yang seharusnya pengurangan.
Kesalahan membaca soal
Mahasiswa salah dalam membaca kata-kata penting dalam pernyataan.

·                    Pecahan biasa dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Bentuk soal:
Soal:
Jawaban siswa:
Keterangan:
Siswa menjawab dengan benar akan tetapi siswa itu menggunakan pecahan decimal , ini di sebakan karena siswa itu salah dalam membaca kata-kata penting dalam pengerjakaan matematika.
Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah berupa kata-kata, tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.Sumber data dalam penelitian ini yaitu 6 mahasiswa terpilih.Berdasarkan sumber data tersebut, 6 mahasiswa terpilih tersebut sebagai subjek wawancara.Pemilihan subjek pada 6 mahasiswa dibedakan melalui tingkat kemampuan, yaitu tinggi, sedang, dan rendah.Pemilihan subjek wawancara ini ditentukan berdasarkan pertimbangan dosen mata pelajaran matematika mahasiswa semester VI PGMI.
seperti mahasiswa yang mudah diajak berkomunikasi dan bekerja sama. Dari 6 subjek tersebut merupakan mahasiswa terpilih untuk melakukan tes serta wawancara.
Untuk memperoleh data dari penelitian ini, peneliti menggunakan Instrumen pengumpulan data berupa tes.Bentuk tes yang digunakan dalam pengumpulan data adalah tes uraian yang menggambarkan tingkat kealahan siswa pada materi pecahan. Dipilihnya tes uraian pada penelitian ini karena untuk menyesuaikan dengan penelitian ini yaitu pemecahan masalah berdasarkan indicator kesalahan newman. Tes yang diberikan disusun sendiri oleh peneliti dan sudah dikonsultasikan dengan guru bidang studi. Tes merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan dalam rangka melaksanakan kegiatan pengukuran, yang di dalamnya terdapat berbagai pertanyaan, pernyataan, atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau dijawab oleh peserta didik untuk mengukur aspek perilaku peserta didik.
Untuk teknik pengumpulan data.Adapun teknik pengumpulan datanya adalah menggunakan Think Aloud Method.
Teknik pengecekan kebasahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan Triangulasi data. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.Triangulasi ini dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa data-data yang telah terkumpul sehingga diperoleh data yang benar-benar absah dan objektif. Pada penelitian ini menggunakan jenis teriangulasi waktu yaitu memberikan tes pertama ke subjek kemudian melakukan tes kedua pada subjek yang sama dengan menggunakan instrument tes yang sama maupun berbeda pada waktu yang berbeda minimal satu minggu sejak tes pertama dilakukan.

C.      TEMUAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data hasil penelitian Dalam penelitan ini data diperoleh dari metode tes dan wawancara.Metode tes digunakan untuk mengetahui bentuk-bentuk kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan operasi hitung bilangan pecahan.Dalam menganalisis data, jawaban siswa ditentukandari hasil akhirnya saja tatapi dilihat dari langkah-langkah yang digunkan oleh mahasiswa karena yang ditentukan adalah pemahaman konsep mahasiswa dalam menyelesaikan soal-soal operasi hitung pada bilangan pecahan.
Berdasarkan beberapa kesalahan yang dilakukan oleh siswa, diperoleh bentuk-bentuk kesalahan yang dapat dikelompokkan kedalam 6 tipe kesalahan, yaitu, (1) kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat, (2) kesalahan dalam keterampilan proses, (3) kesalahan dalam memahami soal, (4) kesalahan transformasi, (5) kesalahan dalam menggunakan notasi, dan (6) kesalahan membaca notasi.
Table 2
Jumlah Tiap-Tiap Tipe Kesalahan
no soal
Materi
keterangan
Total kesalahan

kode
kode
kode
kode
kode
kode


1
Pecahan biasa dengan pecahan biasa
Penyebut sama

2

-

-

-

-

-

2
Penyebut tidak sama

5

2

-

-

-

-

7


2
Pecahan campuran dengan pecahan biasa
Penyebut sama

3

1

-

-

-

-

4
Penyebut tidak sama

5

2

-

-

-


-

7


1
Pecahan biasa
Dengan pecahan biasa
Penyebut sama

2

3

-

-

-


-

5
Penyebut tidak sama

6

1

-

-

1

-

8


2
Pecahan campuran dengan pecahan biasa
Penyebut sama

6

1

1

-

-

-

8
Penyebut tidak sama

9

2

1

-

-

-

12
Tipe kesalahan I (kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat) adalah kesalahan dalam proses penyelesaian dimana siswa tidak menguasai suatu konsep matematika dan siswa kurang menguasai teknik berhitung, antara lain adalah didalam mengerjakan siswa langsung menjawab soal tanpa menulis langkah-langkahnya.
Jenis soal pecahan biasa dengan pecahan biasa (penyebutnya sama)
Jawaban siswa pada tes pertama  , keterangan; Terlihat sekali bahwa mahasiswa itu melakukan kesalahan karena siswa itu tidak menguasai suatu konsep suatu bilangan pecahan. Mahasiswa  langsung menjumlahkan bilangan tersebut dan akhirnya mahasiswa itu pun salah dalam menjawab soal tersebut.
Hasil Wawancara: berdasarkan hasil wawancara, ternyata siswa masih bingung bagaimana cara untuk menyelesaikan soal tersebut. Hal ini didukung dengan cara mengerjakan siswa saat diberi soal 2 atau tes kedua pada tanggal 23 mei 2019  siswa menjawab .
Berdasarkan contoh Tipe kesalahan I (kesalahan karena keserobohan atau kurang cermat), dari kesalahan siswa tersebut terdapat berbagai macam-macam faktor yang menjadi pemikiran disebalik kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal-soal operasi pecahan pada bulat. Faktor-faktor tersebut yaitu siswa kurang teliti didalam mengerjakanya(siswa ceroboh), siswa merasa bingung dalam mengerjakan operasi pacahan pada notasi-notasi tertentu. Kesalahan-kesalahan tersebut dikarenakan siswa tidak menguasai konsep dari operasi bilangan pecahan pada bilangan.
Tipe kesalahan II (kesalahan dalam keterampilan proses) adalah Siswa dalam menggunakan kaidah atau aturan sudah benar atau siswa sudah bisa menguasai konsep, tetapi siswa melakukan kesalahan dalam melakukan penghitungan atau komputasi. Prosentase berdasarkan tipe kesalahan II adalah:
Jenis soal pecahan biasa dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Jawaban siswa pada tes pertama  , Keterangan; Siswa itu sudah menggunakan kaidah atau aturan kerja operasi pada bilangan pecahan tetapi siswa melakukan keslahan dalam menghitung dan menyebabkan hasil dari jawabannya pun salah.
Hasil Wawancara :Berdasarkan hasil dari wawancara dengan siswa kesalahan yang didapat adalah siswa tergesa-gesa ingin cepat menyelesaikanya dan saat diberi soal yang sama pada tes kedua dengan didampinggi, siswa itu bisa mengerjakan.
Berdasarkan dari contoh Tipe kesalahan II (kesalahan karena keterampilan proses), dari kesalahan siswa tersebut terdapat berbagai macam faktor-faktor yang menjadi pemikiran dibalik kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal opersi hitung pada bilangan pecahan.Faktor-faktor tersebut yaitu siswa melakukan kesalahan dalam penghitungan dan siswa tergesa-gesa didalam menulis jawaban akhir yang membuat jawaban tersebut menjadi salah.
Tipe kesalahan III (kesalahan memahami soal) adalah siswa sebenarnya sudah dapat memahami soal, tetapi belum menangkap informasi yang terkandung dalam pertanyaan, sehingga siswa tidak dapat menyelesaikan solusi dari permasalahan atau siswa tidak bisa menuliskan hasil akhir dari soal. Prosentase berdasarkan tipe kesalahan III adalah:
Jenis soal pecahan campuran dengan pecahan biasa (penyebut sama)
Jawaban siswa pada tes pertama :, Keterangan; Sebenarnya siswa sudahmemahami soal tetapi siswa belum menangkap informasi yang terkandung dalam soal yang membuat siswa tidak bisa mengisi jawaban akir dari soal itu.
Hasil Wawancara: Berdasarkan wawancara dengan siswa kesalahan yang didapat siswa merasa bimbang dan bingung untuk menyelesaikan soal tersebut dan pada tes kedua setelah di beri masukan tetap siswa itu merasa bimbang untuk melanjutkan jawabannya.
Tipe kesalahan VI (kesalahan dalam mentransformasi) adalah kesalahan siswa yang sering dijumpai kesalahan dalam proses penyelesaian dikarenakan kurang memahami konsep. Didalam menyelesaikan soal-soal operasi hitung pada bilangan pecahan kesalahan yang dilakukan seperti salah dalam mentransformasikan.
Jenis soal pecahan campuran dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Jawaban siswa pada tes pertama :, Keterangan; Siswa itu sudah benar tapi siswa itu gagal dalam mentransformasikan kalimat matematika yang berbentuk pecahan campuran. Akan tetapi siswa itu menggunakan pecahan decimal.
Hasil Wawancara: Berdasarkan hasil dari wawancara kesalahan yang dilakukanoleh siswa adalah  tetapi siswa menjawabnya 36 hasilnyapun salah.
Tipe kesalahan V (kesalahan dalam menggunakan notasi) adalah kesalahan siswa yang sering dijumpai kesalahan dalam proses penyelesaian dikarenakan kurang memahami konsep. Didalam menyelesaikan soal-soal operasi hitung pada bilangan pecahan kesalahan yang dilakukan seperti salah dalam mengubah operasi bilangan. Prosentase berdasarkan tipe kesalahan V adalah:
Jenis soal pecahan biasa denagan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Jawaban siswa pada tes pertama , Keterangan; Siswa itu sudah benar dalam menentukan bilangannya tetapi salah dalam menggunakan notasinya yaitu siswa menggunakan notasi penjumlahan yang seharusnya pengurangan.
Hasil Wawancara: Berdasarkan hasil dari wawancara kesalahan yang didapat adalah siswa salah menulis notasi yang seharusnya pengurangan menjadi penjumlahan. Akan tetapi pada tes yang kedua siswa juga masih salah dalam menggunakan notasi yang menyebabkan ia salah.
Tipe kesalahan VI (kesalahan dalam membaca soal) adalah kesalahan siswa yang sering dijumpai kesalahan dalam proses penyelesaian dikarenakan kurang memahami konsep atau salah dalam membaca soal. Didalam menyelesaikan soal-soal operasi hitung pada bilangan pecahan kesalahan yang dilakukan seperti salah dalam membaca soal pecahan yang berbentuk cerita. Prosentase berdasarkan tipe kesalahan VI:
Jenis soal pecahan  biasa dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Jawaban siswa pada tes prtama , Keterangan; Siswa menjawab dengan benar akan tetapi siswa itu menggunakan pecahan decimal , ini di sebakan karena siswa itu salah dalam membaca kata-kata penting dalam pengerjakaan matematika.
Hasil Wawancara: Berdasarkan hasil dari wawancara kesalahan yang dilakukan oleh siswa adalah menggunakan desimal ini disebabkan karena siswa itu salah dalam membaca perintah dari soal tersebut, setelah dilakukan tes kedua setelah mendapatkan pencerahan siswa itu bisa menjawab dengan benar sesuai perintah.
D.      SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Berdasarkan prosentase kesalahan pada tiap-tiap kesalahan yang didapat di UIN Mataram adalah: kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat yaitu sebesar 66,67%; kesalahan dalam keterampilan proses yaitu sebesar 26,04%; kesalahan memahami soal yaitu sebesar 4,17%; kesalahan dalam mengunakan notasi yaitu sebesar 3,13%.
2.      Faktor-faktor yang menjadi pemikiran disebalik kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal operasi pada bilangan pecahan, faktor-faktor itu adalah sebagai berikut :
a.      Banyak siswa yang ceroboh saat mengerjakan seperti siswa kurang teliti, terburu-buru tanpa mengoreksi kembali kerjaannya, sehingga siwa tidak mengetahui jika pekerjaannya masih salah atau malah belum dikerjakan.
b.      Siswa belum mengerti benar tentang operasi pada bilangan pecahan, yang membuat siswa salah dalam mengerjakan soal-soal operasi bilangan pecahan.
c.       Siswa agak lama memahami soal karena bahasa yang digunakan sehari-hari berbeda, siswa hanya mementingkan hasil akhir saja tanpa memberi keterangan yang jelas dalam menjawab soal.
d.      Siswa yang benar-benar mengerjakan soal dengan sungguh-sungguh hanya beberapa orang saja dan yang lainnya banyak yang cerita sendiri, banyak siswa yang menunggu jawaban teman untuk mengerjakan soal.
Berdasarkan beberapa faktor-faktor di atas dapat dilihat bahwa pemikiran disebalik kesalahan yang dilakukan siswa terjadi karena adanya konflik kognitif.Kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa karena pemahaman konsep pada materi operasi pada bilangan pecahan masih kurang, hal ini disebabkan siswa kurang menyukai mata pelajaran matematika, kesalahan bisa juga terjadi pada buku panduan dan penyampaian konsep guru yang salah.
DAFTAR PUSTAKA

Budiyono. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surakarta : UNS-Press.
Clements, M. N. 1980. Analysing Children’s Error on Mathematical Taks.Education Studies in Mathematics. 11.1-21.
Maleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif.Bandung : PT Remaja Rosdakarya (ROSDA).
Maya Mulyani dan Dedi Muhtadi (2019).Analisis Kesalahan Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Trigonometri Tipe Higher Order Thinking Skill Ditinjau Dari Gender. JPPM Vol. 12 No. 1
Arifin, Zainal, 2012 Penelitian Pendidikan: Metode dan Paradigma Baru , Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.
Rasiman, “Leveling of Student’s Critical Ability in Solving Mathematics Problem Base on Gender Differences”, International Jurnal of Education and Research, Vol 3 No. 4, April 2015, 307-318.
Merta Dhewa Kusuma, Pengembangan Perangkat Instrumen Asesmen Higher Order Thinking Skill (Hots)Dalam Pembelajaranfisika Siswa Sma Padamateri Fluida Statis. Tesis Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikanuniversitas Lampungbandar Lampung 2017 h. 36-37.
Iyad Mulyadi, Dedi Muhtadi. Jurnal Penelitian Pendidikan dan Pengajaran Matematika. Proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah geometri berdasarkan Teori Van Hiele ditinjau dari gender .vol. 4 no. 1, pp. 1–8. terbit: 31 Maret 2019.





[1]Universitas Islam Negri, Mataram, Indonesia, 160103088.mhs@uinmataram.ac.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DESAIN PEMBELAJARAN MATEMATIKA

DesainPembelajaranMatematika #MT19 Siti Nurhalimah ( 160103088 ) TujuanPembelajaran: Siswadiharapkanuntukbisa menentukangradien...