ANALISIS
KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL PADA OPERASI BILANGAN PECAHAN MENGGUNAKAN
TIPE KESALAHAN NEWMAN
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
jenis-jenis kesalahan yang dilakukan mahasiswa pada materi operasi bilangan
pecahan, dan mendeskripsikan factor yang menyebabkan mahasiswa mengalami
kesalahan dalam menyelesaikan soal cerita operasi bilangan pecahan dengan
menggunakan tipe kesalahan newman.Penelitian
ini merupakan penelitian Deskriptif dengan pendekatan kualitatif.Subjek
penelitian ini adalah 2 orang siswa yaitu 1 laki-laki yang berkemampuan tinggi dan 1 perempuan berkemampuan tinggi mahasiswa PGMI semester VI UIN Mataram.Penelitian ini dengan menentukan subjek
dengan menggunakan instrument pengumpulan data berupa tes.Pengumpulan data
dilakukan dengan Think
Aloud Method.Pengecekan
keabsahan data menggunakan triangulasi waktu.Berdasarkan hasil penelitian bahwa
kkesalahan tipe1 yaitu kesalahan karena kecerobohan atau kurang cermat 66,67%
kesalahan tipe 2 yaitu kesalahan dalam keterampilan proses sebesar 26,04%
kesalahan tipen3 yaitu kesalahan dalam memahami soal sebesar4, 17% kesalahan tipe
4 yaitu kesalahan transformasi 2,00%, kesalahan tipe 5 yaitu kesalalhan
menggunakan notasi sebesar 3,13% kesalah tippe 6 yaitu kesalahan membaca
sebesar 1%. Secara keseluruhan kesalahan
yang dilakukan karena kesalahan keterampilan proses yaitu mahasiswa dalam menggunakan kaidah atau aturan sudah
benar, tetapi melakukan kesalahan saat melakukan perhitungan. Dengan penyebab
kesalahan ini mahasiswa cendrung tidak memerhatikan pelajaran, kurang teliti
dalam mengerjakanny dan kurang latihan.
Kata kunci: Analisis kesalahan, tipe kesalahan newman, bilangan pecahan
|
|
 |
Abstract:This
research aims to identify the types of mistakes that students do on fractional
number operating materials, and describe the factor that cause students to
experience mistakes n resolving the story of sugery. The number of fractions.
This research is a descriftive study wiyh a qualitative approach. The subject
of ths study is 2 students, 1 male and 1 fammale students of the semester VI
UIN Mataram. This research by determining the subject by using the data
collection instrument in the from of tests. Data collection is done with the
Think Aloud Method. Check the validity of data Using time triangulastion. Based
on the results of the study that the fault tipe 1 is an error due to
carelessness or less careful 66.67% fault type 2 IE error in process skill of
26.04% error type 3 ie error in understanding the problem of 17& type 4
error, namely the transformation error 2.00%, type5 error that is using a
natation of 3.13% mistake type 6 ie read error of 1%. Overall mistakes are done
due to the mistake of the process skills that students in using rules or
regulations are correct, butnmake mistakes while doing calculations. With the cause
of this error students nudge not notice the lesson, thorough in the work and
lack of exercise.
Keywords: Error analysis,
Newman error type, Fraction
A. PENDAHULUAN
Tujuan pembelajaran matematika yaitu memahami konsep matematika,
menggunakan penalaran, memecahkan masalah, mengomunikasikan gagasan dengan
simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah,
dan memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan (Wardhani,
2008).
Dalam
kehidupan sehari-hari, kita selalu menghadapi banyak
permasalahan.Permasalahan-permasalahan itu tentu saja tidak semuanya merupakan
permasalahan matematis, namun matematika memiliki peranan yang sangat sentral
dalam menjawab permasalahan keseharian itu (Suherman, 2005:65).Ini berarti
bahwa matematika sangat diperlukan oleh setiap orang dalam kehidupan
sehari-hari untuk membantu memecahkan permasalahan. Oleh karena itu, tidak
salah jika pada bangku sekolah, matematika menjadi salah satu mata pelajaran pokok
yang diajarkan dari bangku taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.
Rendahnya
kemampuan matematika siswa disebabkan oleh faktor siswa yaitu mengalami masalah
secara komprehensif atau secara parsial dalam matematika, didalam memberikan
meteri pembelajaran matematika guru sering menyampaikan melalui ceramah saja
sehingga siswa-siswi sulit menangkap konsep yang diberikan oleh guru. Padahal
jika suatu konsep tidak diberikan dengan benar maka siswa-siswi akan kesulitan
dalam melanjutkan materi berikutnya.
Keabstrakan
mempelajari matematika merupakan suatu hal yang paling sulit, paling tidak
disukai, tidak disenangi,
dan dianggap sukar
dalam dunia pendidikan
untuk sebagian besar siswa.
Ruseffendi (2010) mengatakan bahwa matematika (ilmu pasti) bagi anak- anak pada
umumnya merupakan mata pelajaran yang pembelajarannya tidak disenangi kalau
bukan sebagai mata pelajaran yang dibenci. Hal ini diperkuat oleh Cockcroft
(1982) yang menyatakan bahwa mathematics
is a difficult subject both to teach and to learn atau matematika merupakan
pelajaran yang sulit untuk diajarkan maupun dipelajari.
Anggapan tersebut harusnya
bisa ditepis karena dalam matematika terkandung suatu cara seseorang belajar
berpikir dan bernalar yang bermanfaat dalam mengolah otaknya. Apabila siswa
bisa menguasai dan memahami soal-soal matematika, akan timbul rasa
keingintahuan untuk menemukan jawaban dari soal yang diberikan. Dalam proses
menemukan jawaban tersebut, siswa mendapatkan tantangan untuk bisa
menyelesaikan soal tersebut dengan cara mereka sendiri. Karena setiap siswa
mempunyai cara berpikir masing-masing. Satu keyakinan penting yang perlu
dimiliki oleh para guru terhadap siswanya, bahwa setiap individu lahir dengan
membawa potensi. Dengan keyakinan demikian, harapannya akan muncul kesungguhan
untuk lebih peka dan cermat dalam
berusaha menemukan serta mengembangkan potensi yang dimiliki
siswa.
Pemecahan masalah dalam
matematika di sekolah biasanya diwujudkan melalui soal
cerita. Dalam penyelesaian soal
cerita, siswa dituntut untuk dapat memahami konteks permasalahan yang
diberikan, menemukan metode penyelesaian, dan menafsirkan kembali penyelesaian
yang diperoleh. Menurut NCTM (2000:52), pemecahan masalah merupakan proses
menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya pada situasi baru dan
berbeda. Selain itu NCTM mengungkapkan tujuan pengajaran pemecahan masalah
secara umum adalah untuk (1) membangun pengetahuan matematika baru, (2)
memecahkan masalah yang muncul dalam matematika dan di dalam kontekskonteks lainnya,
(3) menerapkan dan menyesuaikan bermacam strategi yang sesuai untuk memecahkan
permasalahan dan (4) memantau dan merefleksikan proses dari pemecahan masalah
matematika. Sehingga pemecahan masalah dan penalaran menjadi salah satu fokus
utama dalam pembelajaran matematika sekolah.
Salah satu strategi
pembelajaran yang mengkaitkan soal-soal tipe Higher Order Thinking Skill (HOTS)
adalah pemecahan masalah. Lester
F K & Kehle P E (2003) menyatakan bahwa pemecahan masalah adalah kegiatan
yang melibatkan berbagai tindakan dalam pikiran termasuk aplikasi dalam
penggunaan pengetahuan dan pengalaman.Dalam penyelesaian soal tipe HOTS siswa
dituntut untuk dapat memahami konteks permasalahan yang diberikan, menemukan
metode penyelesaian, dan menafsirkan
kembali penyelesaian yang diperoleh. Sebagaimana dinyatakan oleh Mayer (1987)
kemampuan ranah pengetahuan
mencakup (a) pengetahuan bahasa dan fakta, (b) pengetahuan skema, (c)
pengetahuan algoritma, dan (d) pengetahuan strategis. Sehingga siswa perlu
dibekali dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan tinggi dalam pemecahan
masalah dan penalaran menjadi salah satu fokus utama dalam pembelajaran
matematika sekolah.Pada peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia No. 54 tahun 2013 dijelaskan bahwa “Standar kompetensi lulusan adalah
kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan”. Hal ini berarti bahwa untuk mengukur pencapaian hasil belajar
tidak hanya pada kemampuan siswa dalam menguasai materi pembelajaran atau hanya
dalam aspek pegetahuan (kognitif) saja, tetapi untuk
melihat pencapaian hasil belajar siswa harus dilihat dari tiga aspek
secara komprehensif, yaitu pengetahuan (kognitif), sikap (afeksi) dan
keterampilan (psikomotorik).
Permendikbud No. 22 tahun
2016 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah bahwa penilaian aspek
pengetahuan terbagi menjadi 5 level, yaitu: mengingat, memahami, menerapkan,
menganalisis dan mengevaluasi. Hal ini menunjukkan bahwa pada ranah kognitif
terdapat dua level yang termasuk Higher
Order Thinking Skill (HOTS). Soal-soal HOTS menuntun siswa untuk berpikir
tingkat tinggi dan dihubungkan dengan problematika dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh sebab itu berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia No. 54 tahun 2013 seharusnya
soal ujian nasional yang diselenggarakan
di Indonesia mencakup soal-soal pada tingkat Higher Order Thinking Skill (HOTS) agar tercipta Sumber Daya
Manusia (SDM) yang berkualitas yang mampu memecahkan masalah dalam kehidupan
sehari-hari.
B. METODE
PENELITIAN
Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yang
menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu proses
penelitian yang dilakukan secara wajar dan natural sesuai dengan kondisi
objektif di lapangan tanpa adanya manipulasi, serta jenis data yang dikumpulkan
adalah data kualitatif.
Peneliti menggunakan
pendekatan kualitatif, karena peneliti berusaha memperoleh data deskriptif
berupa kata-kata tertulis (berupa jawaban tertulis mahasiswadalam menjawab
soal), kata-kata lisan (misal pembicaraan keseharian mahasiswa terkait
matematika khususnya pada materi operasi hitung bilangan pecahan).
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian
deskriptif.Penelitian deskriptif (descriptive research) adalah suatu metode
penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang
berlangsung pada saat ini atau saat yang lampau.10 Penelitian deskriptif
memiliki langkah-langkah dalam pelaksanaannya. Langkah-langkah ini sebagai
berikut:
1.
Diawali
dengan adanya masalah.
2.
Menentukan
jenis informasi yang diperlukan.
3.
Menentukan
prosedur pengumpulan data melalaui observas atau pengamatan.
4.
Pengelolaan
informasi atau data.
5.
Menarik
kesimpulan penelitian.
Dalam
penelitian ini menggunakan landasan teori yang bisa mendukung penelitian
kualitatif. Bogdan & Biklen menyebut landasan teori sebagai
paradigma.Paradigma ini diartikan sebagai kumpulan longgar tentang asumsi yang
secara logis dianut bersama konsep atau proporsi yang mengarah pada cara
berpikir dan cara penelitian. Dalam hal ini, peneliti menggunakan tipe HOTS
untuk menjawab masalah penelitian denganjelas bagaimana tingkat kesalahan siswa
dalam memecahkan masalah pada materi pecahan di jurusan PGMI mahasiswa semester
VI UIN Mataram.
Selain
itu, peneliti membuat instrumen penelitian yaitu berupa lembar tes dan pedoman
wawancara yang dapat menilai tingkat kesalahan siswa dalam pemecahan masalah
matematika pada materi pecahan. Serta menganalisis factor-faktor apa saja yang
membuat siswa dapat melakukan kesalahan dalam memecahkan masalah matematika
pada materi pecahan.
Dalam
penelitian ini, kehadiran peneliti sangat dibutuhkan karena peneliti bertindak
sebagai instrumen kunci.Hal ini didasarkan karena peneliti berpartisipasi
langsung dalam penelitian mulai dari memilih topik, pelaksanaan, pengumpulan
data, penganalisis data, penyimpulan dan pembuatan laporan penelitian.Peneliti
mengumpulkan data secara langsung, yaitu data hasil observasi, tes tertulis,
serta hasil wawancara secara mendalam untuk mengetahui tingkat kemampuan
berpikir kritis mahasiswa.Saat pengumpulan data di lapangan, peneliti berperan
serta dalam kegiatan penelitian dibantu oleh guru dan mahasiswa khususnya
mahasiswa semester VI PGMI untuk mengumpulkan data sebanyak-banyaknya.
Penelitian ini dilaksanakan
di UIN Mataram yang beralamatkan di Jalan Gajah Mada No. 100, Pagesangan,
Mataram, Jempong Baru, Sekarbela, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Alasan
memilih UIN Mataram:
1.
Memenuhi
permintaan dosen serta lokasi peneliti yang mudah dijangkau peneliti.
2.
Peneliti
terikat dengan tingkaat kesalahan siswa di dalam mmenyelesaikan masalah
matematika pada materi pecahan pada mahasiswa.
Subjek penelitian dalam
penelitian ini adalah mahasiswa semester VI PGMI.Alasan dipilihnya subjek ini
adalah karena pada kelas ini telah selesai diajarkan terkait materi pecahan.Subjek
yang dipilih dalam penelitian ini berjumlah 6 mahasiswa berdasarkan kemampuan
akademik mereka di bidang matematika yaitu tinggi, sedang, dan rendah pada
semester tersebut.Serta subjek yang dipilih merupakan mahasiswa yang mudak
diajak berkomunikasi.Pemilihan subjek tersebut berdasarkan informasi yang
diberikan dosen mata pelajaran matematika mahasiswa semester VI PGMI.
Data yang akan digunakan
dalam penelitian ini adalah hasil observasi, hasil pekerjaan mahasiswa dalam
mengikuti tes dan hasil wawancara yang digunakan penelitian untuk memperjelas
tingkat kesalahan mahasiswa dalam memecahkan maslah matematika yang lakukan
oleh mahasiswa. Peneliti menggunakan data penelitian berupaa tes dan hasil
wawancara mahasiswa dalam memecahkan maslah matematika materi pecahan dengan
indicator jenis kesalahan meurut Newman yaitu:
1.
Kesalahan karena
kecerobohan atau kurang cermat.
2.
Kesalahan dalam
keterampilan proses
3.
Kesalahan dalam memahami
soal
4.
Kesalahan
menstransformasikan
5.
Kesalahan menggunakan
notasi
6.
Kesalahan membaca soal
Table 1 indikator kesalahan menurut newman
Jenis kesalahan
|
Indicator
|
kode
|
Soal beserta jawaban yang benanr
|
Simulasi dari indikator
|
Kesalahan
karena kecerobohan atau kurang cermat
|
Tidak
menguasai konsep, dan mahasiswa kurang menguasai teknik berhitung
|
|
·
Pecahan
biasa dengan pecahan biasa (penyebut sama)
Bentuk soal: 
Soal: 
|
Jawaban
siswa 
Keterangan:
Terlihat sekali bahwa mahasiswa itu melakukan kesalahan
karena siswa itu tidak menguasai suatu konsep suatu bilangan pecahan.
Mahasiswa langsung menjumlahkan
bilangan tersebut dan akhirnya mahasiswa itu pun salah dalam menjawab soal
tersebut.
|
Kesalahan
keterampilan proses
|
Mahasiswa
sudah menguasai konsep tapi mahasiswa
salah dalam melakukan perhitungan atau komputasi
|
|
·
Pecahan
biasa dengan pecahan biasa( penyebut tidak sama)
Bentuk soal: 
Soal: 
|
Jawaban siswa : 
Keterangan:
Siswa itu sudah menggunakan kaidah atau aturan kerja
operasi pada bilangan pecahan tetapi siswa melakukan keslahan dalam
menghitung dan menyebabkan hasil dari jawabannya pun salah.
|
Kesalahan
dalam memahami soal
|
Mahasiswa
belum menangkap informasi yang terkandung dalam pernyataan sehingga mahasiswa
tidak dapat memperoses lebih lanjut dari permasalahan.
|
|
·
Pecahan
campuran dengan pecahan biasa (penyebut sama)
Bentuk soal: 
Soal: 
|
Jawaban siswa: 
Keterangan:
Sebenarnya
siswa sudahmemahami soal tetapi siswa belum menangkap informasi yang
terkandung dalam soal yang membuat siswa tidak bisa mengisi jawaban akir dari
soal itu.
|
Kesalahan
mentransformasikan
|
Mahasiswa
gagal dalam mengubah kalimat matematika yang benar.
|
|
·
Pecahan
campuran dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Bentuk soal: 
Soal: 
|
Jawaban siswa: 
Keterangan:
Siswa itu sudah benar tapi siswa itu gagal dalam mengubah
kalimat matematika yang berbentuk pecahan campuran.akan tetapi siswa itu
menggunakan pecahan decimal.
|
Kesalahan
menggunakan notasi
|
Mahasiswa
salah dalam menggunakan notasi
|
|
·
Pecahan
biasa dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Bentuk soal: 
Soal: 
|
Jawaban siswa: 
Keterangan:
Siswa itu sudah benar dalam menentukan bilangannya tetapi
salah dalam menggunakan notasinya yaitu siswa menggunakan notasi penjumlahan
yang seharusnya pengurangan.
|
Kesalahan
membaca soal
|
Mahasiswa
salah dalam membaca kata-kata penting dalam pernyataan.
|
|
·
Pecahan
biasa dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Bentuk soal: 
Soal:

|
Jawaban siswa: 
Keterangan:
Siswa menjawab dengan benar akan tetapi siswa itu
menggunakan pecahan decimal , ini di sebakan karena siswa itu salah dalam
membaca kata-kata penting dalam pengerjakaan matematika.
|
Sumber data utama dalam
penelitian kualitatif ialah berupa kata-kata, tindakan selebihnya adalah data
tambahan seperti dokumen dan lain-lain.Sumber data dalam penelitian ini yaitu 6
mahasiswa terpilih.Berdasarkan sumber data tersebut, 6 mahasiswa terpilih tersebut
sebagai subjek wawancara.Pemilihan subjek pada 6 mahasiswa dibedakan melalui
tingkat kemampuan, yaitu tinggi, sedang, dan rendah.Pemilihan subjek wawancara
ini ditentukan berdasarkan pertimbangan dosen mata pelajaran matematika
mahasiswa semester VI PGMI.
seperti mahasiswa yang
mudah diajak berkomunikasi dan bekerja sama. Dari 6 subjek tersebut merupakan
mahasiswa terpilih untuk melakukan tes serta wawancara.
Untuk memperoleh data dari
penelitian ini, peneliti menggunakan Instrumen pengumpulan data berupa
tes.Bentuk tes yang digunakan dalam pengumpulan data adalah tes uraian yang
menggambarkan tingkat kealahan siswa pada materi pecahan. Dipilihnya tes uraian
pada penelitian ini karena untuk menyesuaikan dengan penelitian ini yaitu
pemecahan masalah berdasarkan indicator kesalahan newman. Tes yang diberikan
disusun sendiri oleh peneliti dan sudah dikonsultasikan dengan guru bidang
studi. Tes merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan dalam rangka
melaksanakan kegiatan pengukuran, yang di dalamnya terdapat berbagai
pertanyaan, pernyataan, atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau
dijawab oleh peserta didik untuk mengukur aspek perilaku peserta didik.
Untuk
teknik pengumpulan data.Adapun teknik pengumpulan datanya adalah menggunakan Think Aloud Method.
Teknik pengecekan kebasahan
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan Triangulasi data.
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu
yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding
terhadap data itu.Triangulasi ini dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa
data-data yang telah terkumpul sehingga diperoleh data yang benar-benar absah
dan objektif. Pada penelitian ini menggunakan jenis teriangulasi waktu yaitu
memberikan tes pertama ke subjek kemudian melakukan tes kedua pada subjek yang
sama dengan menggunakan instrument tes yang sama maupun berbeda pada waktu yang
berbeda minimal satu minggu sejak tes pertama dilakukan.
C. TEMUAN
DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan
data hasil penelitian Dalam penelitan ini data diperoleh dari metode tes dan
wawancara.Metode tes digunakan untuk mengetahui bentuk-bentuk kesalahan yang
dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan operasi
hitung bilangan pecahan.Dalam menganalisis data, jawaban siswa ditentukandari
hasil akhirnya saja tatapi dilihat dari langkah-langkah yang digunkan oleh
mahasiswa karena yang ditentukan adalah pemahaman konsep mahasiswa dalam
menyelesaikan soal-soal operasi hitung pada bilangan pecahan.
Berdasarkan
beberapa kesalahan yang dilakukan oleh siswa, diperoleh bentuk-bentuk kesalahan
yang dapat dikelompokkan kedalam 6 tipe kesalahan, yaitu, (1) kesalahan karena
kecerobohan atau kurang cermat, (2) kesalahan dalam keterampilan proses, (3)
kesalahan dalam memahami soal, (4) kesalahan transformasi, (5) kesalahan dalam
menggunakan notasi, dan (6) kesalahan membaca notasi.
Table 2
Jumlah Tiap-Tiap Tipe
Kesalahan
no
soal
|
Materi
|
keterangan
|
Total
kesalahan
|
kode
|
kode

|
kode

|
kode

|
kode

|
kode

|
1
|
Pecahan
biasa dengan pecahan biasa
|
Penyebut
sama
|
2
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
2
|
Penyebut
tidak sama
|
5
|
2
|
-
|
-
|
-
|
-
|
7
|
2
|
Pecahan
campuran dengan pecahan biasa
|
Penyebut
sama
|
3
|
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
4
|
Penyebut
tidak sama
|
5
|
2
|
-
|
-
|
-
|
-
|
7
|
1
|
Pecahan
biasa
Dengan
pecahan biasa
|
Penyebut
sama
|
2
|
3
|
-
|
-
|
-
|
-
|
5
|
Penyebut
tidak sama
|
6
|
1
|
-
|
-
|
1
|
-
|
8
|
2
|
Pecahan
campuran dengan pecahan biasa
|
Penyebut
sama
|
6
|
1
|
1
|
-
|
-
|
-
|
8
|
Penyebut
tidak sama
|
9
|
2
|
1
|
-
|
-
|
-
|
12
|
Tipe kesalahan I (kesalahan
karena kecerobohan atau kurang cermat) adalah kesalahan dalam proses
penyelesaian dimana siswa tidak menguasai suatu konsep matematika dan siswa
kurang menguasai teknik berhitung, antara lain adalah didalam mengerjakan siswa
langsung menjawab soal tanpa menulis langkah-langkahnya.
Jenis soal pecahan biasa
dengan pecahan biasa (penyebutnya sama)
Jawaban siswa pada tes
pertama
,
keterangan; Terlihat sekali bahwa
mahasiswa itu melakukan kesalahan karena siswa itu tidak menguasai suatu konsep
suatu bilangan pecahan. Mahasiswa
langsung menjumlahkan bilangan tersebut dan akhirnya mahasiswa itu pun
salah dalam menjawab soal tersebut.
Hasil Wawancara: berdasarkan
hasil wawancara, ternyata siswa masih bingung bagaimana cara untuk
menyelesaikan soal tersebut. Hal ini didukung dengan cara mengerjakan siswa
saat diberi soal 2 atau tes kedua pada tanggal 23 mei 2019
siswa menjawab
.
Berdasarkan contoh Tipe
kesalahan I (kesalahan karena keserobohan atau kurang cermat), dari kesalahan
siswa tersebut terdapat berbagai macam-macam faktor yang menjadi pemikiran
disebalik kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal-soal operasi pecahan pada
bulat. Faktor-faktor tersebut yaitu siswa kurang teliti didalam
mengerjakanya(siswa ceroboh), siswa merasa bingung dalam mengerjakan operasi
pacahan pada notasi-notasi tertentu. Kesalahan-kesalahan tersebut dikarenakan
siswa tidak menguasai konsep dari operasi bilangan pecahan pada bilangan.
Tipe kesalahan II
(kesalahan dalam keterampilan proses) adalah Siswa dalam menggunakan kaidah
atau aturan sudah benar atau siswa sudah bisa menguasai konsep, tetapi siswa
melakukan kesalahan dalam melakukan penghitungan atau komputasi. Prosentase
berdasarkan tipe kesalahan II adalah:
Jenis soal pecahan biasa
dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Jawaban siswa pada tes
pertama
,
Keterangan; Siswa itu sudah
menggunakan kaidah atau aturan kerja operasi pada bilangan pecahan tetapi siswa
melakukan keslahan dalam menghitung dan menyebabkan hasil dari jawabannya pun
salah.
Hasil Wawancara :Berdasarkan
hasil dari wawancara dengan siswa kesalahan yang didapat adalah siswa
tergesa-gesa ingin cepat menyelesaikanya dan saat diberi soal yang sama pada
tes kedua dengan didampinggi, siswa itu bisa mengerjakan.
Berdasarkan dari contoh
Tipe kesalahan II (kesalahan karena keterampilan proses), dari kesalahan siswa
tersebut terdapat berbagai macam faktor-faktor yang menjadi pemikiran dibalik
kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal opersi hitung pada bilangan
pecahan.Faktor-faktor tersebut yaitu siswa melakukan kesalahan dalam
penghitungan dan siswa tergesa-gesa didalam menulis jawaban akhir yang membuat
jawaban tersebut menjadi salah.
Tipe kesalahan III
(kesalahan memahami soal) adalah siswa sebenarnya sudah dapat memahami soal,
tetapi belum menangkap informasi yang terkandung dalam pertanyaan, sehingga
siswa tidak dapat menyelesaikan solusi dari permasalahan atau siswa tidak bisa
menuliskan hasil akhir dari soal. Prosentase berdasarkan tipe kesalahan III
adalah:
Jenis soal pecahan campuran
dengan pecahan biasa (penyebut sama)
Jawaban siswa pada tes pertama
:
,
Keterangan; Sebenarnya siswa
sudahmemahami soal tetapi siswa belum menangkap informasi yang terkandung dalam
soal yang membuat siswa tidak bisa mengisi jawaban akir dari soal itu.
Hasil Wawancara: Berdasarkan
wawancara dengan siswa kesalahan yang didapat siswa merasa bimbang dan bingung
untuk menyelesaikan soal tersebut dan pada tes kedua setelah di beri masukan
tetap siswa itu merasa bimbang untuk melanjutkan jawabannya.
Tipe kesalahan VI
(kesalahan dalam mentransformasi) adalah kesalahan siswa yang sering dijumpai
kesalahan dalam proses penyelesaian dikarenakan kurang memahami konsep. Didalam
menyelesaikan soal-soal operasi hitung pada bilangan pecahan kesalahan yang
dilakukan seperti salah dalam mentransformasikan.
Jenis soal pecahan campuran
dengan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Jawaban siswa pada tes
pertama :
,
Keterangan; Siswa itu sudah benar
tapi siswa itu gagal dalam mentransformasikan kalimat matematika yang berbentuk
pecahan campuran. Akan tetapi siswa itu menggunakan pecahan decimal.
Hasil Wawancara: Berdasarkan
hasil dari wawancara kesalahan yang dilakukanoleh siswa adalah
tetapi siswa menjawabnya 36 hasilnyapun salah.
Tipe kesalahan V (kesalahan
dalam menggunakan notasi) adalah kesalahan siswa yang sering dijumpai kesalahan
dalam proses penyelesaian dikarenakan kurang memahami konsep. Didalam
menyelesaikan soal-soal operasi hitung pada bilangan pecahan kesalahan yang
dilakukan seperti salah dalam mengubah operasi bilangan. Prosentase berdasarkan
tipe kesalahan V adalah:
Jenis soal pecahan biasa
denagan pecahan biasa (penyebut tidak sama)
Jawaban siswa pada tes
pertama
,
Keterangan; Siswa
itu sudah benar dalam menentukan bilangannya tetapi salah dalam menggunakan
notasinya yaitu siswa menggunakan notasi penjumlahan yang seharusnya
pengurangan.
Hasil Wawancara: Berdasarkan
hasil dari wawancara kesalahan yang didapat adalah siswa salah menulis notasi
yang seharusnya pengurangan menjadi penjumlahan. Akan tetapi pada tes yang
kedua siswa juga masih salah dalam menggunakan notasi yang menyebabkan ia
salah.
Tipe kesalahan VI
(kesalahan dalam membaca soal) adalah kesalahan siswa yang sering dijumpai
kesalahan dalam proses penyelesaian dikarenakan kurang memahami konsep atau
salah dalam membaca soal. Didalam menyelesaikan soal-soal operasi hitung pada
bilangan pecahan kesalahan yang dilakukan seperti salah dalam membaca soal
pecahan yang berbentuk cerita. Prosentase berdasarkan tipe kesalahan VI:
Jenis soal pecahan biasa dengan pecahan biasa (penyebut tidak
sama)
Jawaban siswa pada tes
prtama
,
Keterangan; Siswa
menjawab dengan benar akan tetapi siswa itu menggunakan pecahan decimal , ini
di sebakan karena siswa itu salah dalam membaca kata-kata penting dalam
pengerjakaan matematika.
Hasil Wawancara: Berdasarkan
hasil dari wawancara kesalahan yang dilakukan oleh siswa adalah menggunakan desimal ini disebabkan
karena siswa itu salah dalam membaca perintah dari soal tersebut, setelah dilakukan tes kedua setelah mendapatkan pencerahan
siswa itu bisa menjawab dengan benar sesuai perintah.
D. SIMPULAN
Berdasarkan
hasil penelitian yang diperoleh, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Berdasarkan prosentase kesalahan pada tiap-tiap kesalahan
yang didapat di UIN Mataram adalah: kesalahan karena kecerobohan atau kurang
cermat yaitu sebesar 66,67%; kesalahan dalam keterampilan proses yaitu sebesar
26,04%; kesalahan memahami soal yaitu sebesar 4,17%; kesalahan dalam mengunakan
notasi yaitu sebesar 3,13%.
2. Faktor-faktor yang menjadi pemikiran disebalik kesalahan
yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal operasi pada bilangan
pecahan, faktor-faktor itu adalah sebagai berikut :
a.
Banyak siswa yang ceroboh
saat mengerjakan seperti siswa kurang teliti, terburu-buru tanpa mengoreksi
kembali kerjaannya, sehingga siwa tidak mengetahui jika pekerjaannya masih
salah atau malah belum dikerjakan.
b.
Siswa belum mengerti benar
tentang operasi pada bilangan pecahan, yang membuat siswa salah dalam
mengerjakan soal-soal operasi bilangan pecahan.
c.
Siswa agak lama memahami
soal karena bahasa yang digunakan sehari-hari berbeda, siswa hanya mementingkan
hasil akhir saja tanpa memberi keterangan yang jelas dalam menjawab soal.
d.
Siswa yang benar-benar
mengerjakan soal dengan sungguh-sungguh hanya beberapa orang saja dan yang
lainnya banyak yang cerita sendiri, banyak siswa yang menunggu jawaban teman
untuk mengerjakan soal.
Berdasarkan beberapa
faktor-faktor di atas dapat dilihat bahwa pemikiran disebalik kesalahan yang
dilakukan siswa terjadi karena adanya konflik kognitif.Kesalahan-kesalahan yang
dilakukan siswa karena pemahaman konsep pada materi operasi pada bilangan pecahan
masih kurang, hal ini disebabkan siswa kurang menyukai mata pelajaran
matematika, kesalahan bisa juga terjadi pada buku panduan dan penyampaian
konsep guru yang salah.
DAFTAR
PUSTAKA
Budiyono. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan.
Surakarta : UNS-Press.
Clements, M. N. 1980. Analysing
Children’s Error on Mathematical Taks.Education Studies in Mathematics.
11.1-21.
Maleong, Lexy J. 2007. Metodologi
Penelitian Kualitatif.Bandung : PT Remaja Rosdakarya (ROSDA).
Maya Mulyani dan Dedi Muhtadi (2019).Analisis Kesalahan Siswa
Dalam Menyelesaikan Soal Trigonometri Tipe Higher Order Thinking Skill Ditinjau Dari Gender. JPPM Vol.
12 No. 1
Arifin, Zainal, 2012 Penelitian
Pendidikan: Metode dan Paradigma Baru , Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Offset.
Rasiman, “Leveling of
Student’s Critical Ability in Solving Mathematics Problem Base on Gender
Differences”, International Jurnal of Education and Research, Vol 3 No. 4,
April 2015, 307-318.
Merta Dhewa Kusuma, Pengembangan
Perangkat Instrumen Asesmen Higher Order Thinking Skill (Hots)Dalam
Pembelajaranfisika Siswa Sma Padamateri Fluida Statis. Tesis Fakultas
Keguruan Dan Ilmu Pendidikanuniversitas Lampungbandar Lampung 2017 h. 36-37.
Iyad Mulyadi, Dedi Muhtadi. Jurnal Penelitian Pendidikan dan
Pengajaran Matematika. Proses berpikir
siswa dalam menyelesaikan masalah geometri berdasarkan Teori Van Hiele ditinjau
dari gender .vol.
4 no. 1, pp. 1–8. terbit: 31 Maret 2019.